Antrean BBM Mengular di Banyak Daerah, Pertamina Jamin Amankan Pasokan
Pertamina meminta masyarakat tidak panik beli karena pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam kondisi aman di tengah perang AS-Israel Vs Iran.
Penulis:
Rizki Sandi Saputra
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Pertamina meminta masyarakat tidak panik beli atau panic buying karena pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam kondisi aman.
- Pembelian BBM yang tidak wajar justru berpotensi mengganggu distribusi yang seharusnya berjalan normal.
- Jumlah pasokan tersebut bersifat dinamis dan terus diperbarui atau dipenuhi kembali sesuai dengan kebutuhan BBM masyarakat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Pertamina Patra Niaga meminta masyarakat tidak panik beli atau panic buying karena pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam kondisi aman di tengah perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran di Timur Tengah.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun bilang pembelian BBM yang tidak wajar justru berpotensi mengganggu distribusi yang seharusnya berjalan normal.
Pernyataan ini disampaikan menanggapi terjadinya antrean BBM di berbagai daerah seperti di Kota Madan Jember hingga Aceh.
"Kami mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan menggunakan energi secara bijak. Pembelian BBM sesuai ke
butuhan akan membantu menjaga distribusi tetap stabil sehingga seluruh masyarakat dapat memperoleh akses energi secara merata,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Roberth menyatakan, pihaknya akan terus memastikan kebutuhan energi masyarakat, dunia usaha, dan perekonomian nasional tetap terpenuhi dengan baik.
Untuk menjaga keamanan pasokan, pihaknya akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat serta memastikan langkah strategis yang perlu dilakukan.
Baca juga: Panic Buying BBM Terjadi di Jember, Medan, dan Aceh, Dipicu Konflik AS-Iran dan Stok BBM 20 Hari
"Dengan berbagai langkah tersebut, Pertamina Patra Niaga memastikan rantai pasok energi nasional tetap berjalan dengan baik sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara optimal," tutur dia.
Jamin Pasokan Aman
Terkait stok BBM tersisa sekitar 21 hari yang ramai diperbincangkan belakangan ini, dipastikan kalau itu merupakan stok atau pasokan operasional yang secara normal dikelola dalam sistem logistik energi nasional.
Pasokan operasional yang dimaksud tersebut merupakan pasokan BBM yang disimpan dan sudah memenuhi kapasitas penimbunan BBM secara nasional yang akan disalurkan kepada masyarakat.
Meski demikian, jumlah pasokan tersebut bersifat dinamis dan terus diperbarui atau dipenuhi kembali sesuai dengan kebutuhan konsumsi energi masyarakat.
Baca juga: Isu BBM Habis dalam 21 Hari Imbas Konflik Timur Tengah, DPR Bakal Panggil Menteri ESDM
"Stok sekitar 21 hari yang dikelola Pertamina Patra Niaga merupakan stok BBM yang secara normal selalu dijaga dalam sistem logistik energi nasional," kata Roberth.
Sementara itu, stok tersebut dipastikan oleh Roberth akan terus dilakukan pembaruan baik melalui suplay di kilang, atau melalui impor yang dipesan sejak jauh hari.
Atas hal itu, dia meminta kepada publik untuk tidak perlu khawatir soal ketersediaan BBM nasional.
"Stok ini terus dilakukan top-up / re-fill atau penambahan produk melalui produksi dari kilang domestik maupun pengadaan impor yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya, secara rutin berkala juga dilakukan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan BBM," ujar dia.
Ia menambahkan, Pertamina Patra Niaga memiliki sistem pengelolaan rantai pasok energi yang terintegrasi, mulai dari pengadaan minyak mentah dan produk BBM, pengolahan di kilang, transportasi, hingga distribusi ke berbagai wilayah Indonesia.
Sistem ini memastikan ketersediaan energi tetap terjaga dan dapat diakses masyarakat secara merata.
Menanggapi dinamika geopolitik global, termasuk perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah, Pertamina Patra Niaga juga telah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional.
Kata dia, setidaknya ada beberapa poin yang dilakukan Pertamina sebagai opsi menjaga pasokan BBM tetap aman untuk masyarakat, terutama diversifikasi pasokan impor.
"Pertamina Patra Niaga terus memantau perkembangan situasi global dan telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif, antara lain melalui diversifikasi sumber pasokan minyak mentah dan produk BBM, penguatan ketahanan logistik dan distribusi, optimalisasi operasi kilang dalam negeri, serta peningkatan koordinasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan," tandas Roberth.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia hanya berkisar 21-25 hari.
Bahlil menjelaskan, rata-rata stok BBM nasional hanya 21-23 hari bukan karena keterbatasan pasokan energi, tetapi keterbatasan fasilitas penyimpanan atau storage.
"Kapasitas tangki yang ada belum memungkinkan penambahan cadangan dalam jumlah lebih besar. Kalau kita mau tambah, kita simpan di mana? Storage-nya memang belum cukup,” ujarnya.
Pemerintah telah menyiapkan langkah untuk meningkatkan kapasitas storage guna memperkuat ketahanan energi nasional atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Arahan Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami untuk segera membangun storage supaya ketahanan energi kita ada. Storage-nya berapa lama? Insya Allah rencana sampai dengan tiga bulan," katanya.
Pernyataan Bahlil soal stok BBM tersisa 21 hari itu langsung viral dan menuai beragam reaksi di masyarakat.
Di beberapa wilayah bahkan terjadi antre BBM yang mengular akibat masyarakat yang panic buying. Setelah kejadian ini viral, kini Bahlil pun menyampaikan klarifikasi soal ucapannya tersebut.
Bahlil menjelaskan, stok BBM yang ia maksud bukanlah cadangan untuk kondisi darurat, melainkan kemampuan daya tampung atau storage yang sudah dimiliki oleh Indonesia.
Eks Menteri Investasi itu menerangkan, minimal standar nasional stok BBM berada di kisaran 20-21 hari, sementara cadangan maksimalnya 25 hari.
"Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21 sampai 25 hari," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Dimana rerata ketahanan cadangan BBM secara nasional kata Bahlil, berada di level 22-23 hari.
Hal itu karena memang, Indonesia tidak memiliki storage atau tangki yang bisa menyimpan minyak untuk jangka waktu lebih panjang, atau dalam artian Indonesia memiliki keterbatasan storage.
Bahlil meminta agar informasi mengenai ketahanan stok BBM tidak disalahartikan sebagai sinyal darurat.
Ia memastikan persoalan yang dihadapi berkaitan dengan infrastruktur penyimpanan, bukan ketersediaan energi di dalam negeri.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.