Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Jangan Panik, Pertamina Jamin Stok BBM Tetap Melimpah di Atas 21 Hari

Rahasia di balik stabilnya pasokan ini terletak pada Pertamina Digital Hub, sistem pengawasan terintegrasi dari hulu hingga hilir. 

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Dodi Esvandi
Editor: Sanusi
zoom-in Jangan Panik, Pertamina Jamin Stok BBM Tetap Melimpah di Atas 21 Hari
Surya/Purwanto
ANTRE BBM - Warga mengantre Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) Jalan Langsep, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (6/3/2026). Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat membuat Selat Hormuz ditutup sehingga distribusi minyak dunia terganggu. Akibat penutupan Selat Hormuz Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut cadangan BBM di Indonesia cukup untuk 20 hari pasca penutupan tersebut. SURYA/PURWANTO 
Ringkasan Berita:
  • Pertamina telah melakukan "perisai" pasokan dengan memperkuat stok BBM dan LPG nasional jauh di atas batas aman.
  • Sesuai arahan pemerintah, Pertamina menjaga cadangan energi di level 21 hingga 23 hari. 
 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menjelang hiruk-pikuk Ramadan dan Idulfitri 2026, PT Pertamina (Persero) memastikan urusan bahan bakar bukan hal yang perlu dikhawatirkan masyarakat. 

Pertamina telah melakukan "perisai" pasokan dengan memperkuat stok BBM dan LPG nasional jauh di atas batas aman.

Sesuai arahan pemerintah, Pertamina menjaga cadangan energi di level 21 hingga 23 hari. 

Bahkan, untuk beberapa produk tertentu, stoknya melimpah hingga 35 hari.

Baca juga: Stok BBM Kritis Akibat Perang Iran, Thailand Tahan Ekspor Minyak

Bukan Habis, Tapi Terus Diisi

Masyarakat seringkali salah paham bahwa stok 21 hari berarti BBM akan habis total setelah periode tersebut. 

Faktanya, angka itu adalah ambang batas pengamanan yang selalu dijaga tetap penuh.

Rekomendasi Untuk Anda

"Selama distribusi berjalan normal, stok ini terus bergerak. Artinya, setiap liter yang keluar langsung diisi kembali agar cadangan tetap di atas level minimum," ujar Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina, Jumat (6/32026).

Langkah mitigasi ini menjadi komitmen Pertamina agar rantai pasok energi tidak terputus, terutama di tengah lonjakan konsumsi saat mudik.

Pengawasan "Mata Dewa" Lewat Digital Hub

Rahasia di balik stabilnya pasokan ini terletak pada Pertamina Digital Hub, sistem pengawasan terintegrasi dari hulu hingga hilir. 

Melalui dashboard terpadu, perusahaan dapat memantau pergerakan konsumsi BBM dan LPG di setiap wilayah, memonitor distribusi mobil tangki, hingga stok di SPBU.

Di sektor hulu, operasional dijaga sesuai standar agar target produksi tercapai. 

Sementara di sektor hilir, Pertamina memantau pergerakan kapal pengangkut minyak mentah maupun produk jadi, serta memastikan enam kilang dalam negeri beroperasi optimal.

“Dengan teknologi digital, langkah antisipatif bisa dilakukan lebih dini jika terjadi lonjakan permintaan, cuaca ekstrem, atau dinamika global yang memengaruhi rantai pasok energi,” tambah Baron.

Dengan kata lain, sebelum stok di sebuah SPBU menipis, sistem sudah memberi peringatan untuk pengiriman ulang.

Akan Alihkan Impor ke Amerika Serikat 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk atas pasokan minyak mentah atau crude dalam menghadapi ketegangan konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran.

Salah satu solusi atas skenario yang dimaksud, yakni mengalihkan impor crude ke AS dari Timur Tengah.

Pasalnya menurut dia, penutupan Selat Hormuz oleh Iran akibat konflik AS-Israel berisiko mengganggu distribusi minyak se-dunia. Situasi itu disebut tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir.

"Sekali lagi saya katakan bahwa ketegangan ini tidak bisa kita meramalkan kapan selesai. Bisa cepat, bisa lambat," tutur Bahlil saat jumpa pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).

Bahlil menyebut, apabila krisis terhadap pasokan minyak berlangsung lama, maka pemerintah menyiapkan strategi pengalihan sumber impor minyak mentah. 

Tujuannya sederhana, yakni memastikan pasokan dalam negeri tetap tersedia tanpa gangguan distribusi.

Bahlil mengaku sebagian impor crude atau sebesar 20-25 persen Indonesia selama ini memang berasal dari kawasan Timur Tengah. 

"Dengan berbagai macam dinamika yang ada, alhamdulillah ternyata setelah tadi kita detailing, dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil," tuturnya.

Akan tetapi, kerentanan terhadap proses distribusi dari Timur Tengah tersebut dinilai masih bisa dikelola melalui menambah opsi pemasok.

Karena itu, Bahlil menyatakan, pemerintah memutuskan mengambil kemugkinan untuk mengambil crude dari AS.

"Nah, dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita," ucap dia.

Meski begitu, Bahlil memastikan, selain AS, pemerintah juga membuka peluang memperluas kerja sama dengan negara lain yang lebih stabil secara geopolitik. 

Masyarakat Mulai Panic Buying

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia hanya berkisar 21-23 hari.

Bahlil menjelaskan, rata-rata stok BBM nasional hanya 21-23 hari bukan karena keterbatasan pasokan energi, tetapi keterbatasan fasilitas penyimpanan atau storage.

"Kapasitas tangki yang ada belum memungkinkan penambahan cadangan dalam jumlah lebih besar. Kalau kita mau tambah, kita simpan di mana? Storage-nya memang belum cukup,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, ia menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah untuk meningkatkan kapasitas storage guna memperkuat ketahanan energi nasional.  

Upaya tersebut dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Arahan Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami untuk segera membangun storage supaya ketahanan energi kita ada. Storage-nya berapa lama? Insya Allah rencana sampai dengan tiga bulan," katanya.

Pernyataan Bahlil soal stok BBM tersisa 21 hari itu langsung viral dan menuai beragam reaksi dari masyarakat. 

Di beberapa wilayah bahkan telah terjadi antre BBM yang mengular akibat masyarakat yang panic buying

Setelah kejadian ini viral, kini Bahlil pun menyampaikan klarifikasi soal ucapannya tersebut. 

Bahlil menjelaskan, stok BBM yang ia maksud bukanlah cadangan untuk kondisi darurat, melainkan kemampuan daya tampung atau storage yang sudah dimiliki oleh Indonesia. 

Eks Menteri Investasi itu menerangkan, minimal standar nasional stok BBM berada di kisaran 20-21 hari, sementara cadangan maksimalnya 25 hari. 

"Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21 sampai 25 hari," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Dimana rerata ketahanan cadangan BBM secara nasional kata Bahlil, berada di level 21-23 hari.

Hal itu karena memang, Indonesia tidak memiliki storage atau tangki yang bisa menyimpan minyak untuk jangka waktu lebih panjang, atau dalam artian Indonesia memiliki keterbatasan storage.

Bahlil meminta agar informasi mengenai ketahanan stok BBM tidak disalahartikan sebagai sinyal darurat.  

Ia memastikan persoalan yang dihadapi berkaitan dengan infrastruktur penyimpanan, bukan ketersediaan energi di dalam negeri.

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas