Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Pemerintah Diminta Antisipasi Kenaikan Harga Daging Sapi, Anggota DPR Usulkan Perbanyak Pasar Murah

Rajiv, meminta pemerintah mewaspadai kenaikan harga bahan pangan, khususnya daging sapi, menjelang perayaan Idul Fitri. 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Pemerintah Diminta Antisipasi Kenaikan Harga Daging Sapi, Anggota DPR Usulkan Perbanyak Pasar Murah
Tribunnews.com
HARGA DAGING SAPI - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai NasDem, Rajiv, meminta pemerintah mewaspadai kenaikan harga bahan pangan, khususnya daging sapi, menjelang perayaan Idul Fitri.  
Ringkasan Berita:
  • Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv, meminta pemerintah mewaspadai kenaikan harga pangan menjelang Idul Fitri, khususnya daging sapi yang sudah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP). 
  • Berdasarkan data PIHPS Nasional per 15 Maret 2026, harga daging sapi kualitas I mencapai Rp146.600/kg, sementara HAP ditetapkan Rp130.000–140.000/kg.
  • Rajiv menilai lonjakan harga ini sebagai sinyal adanya peningkatan permintaan, masalah distribusi, disparitas pasokan antardaerah, atau margin perdagangan yang berlebihan.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai NasDem, Rajiv, meminta pemerintah mewaspadai kenaikan harga bahan pangan, khususnya daging sapi, menjelang perayaan Idul Fitri. 

Sebab, harga komoditas tersebut di pasaran dinilai telah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah akibat tingginya permintaan.

Rajiv mengungkapkan, berdasarkan Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional hingga Minggu (15/3/2026) pagi, harga daging sapi kualitas I di tingkat pedagang eceran nasional telah mencapai Rp 146.600 per kilogram (kg).

Padahal, merujuk pada Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024, HAP daging sapi segar/chilled di tingkat konsumen hanya ditetapkan sebesar Rp 130.000 per kg untuk paha depan dan Rp 140.000 per kg untuk paha belakang.

"Lonjakan harga daging yang melewati acuan Rp 130.000-140.000 per kg tersebut harus dibaca sebagai sinyal adanya kenaikan demand, persoalan distribusi, disparitas pasokan antardaerah, atau margin perdagangan yang berlebihan," kata Rajiv dalam keterangan tertulisnya kepada Tribunnews.com, Minggu (15/3/2026).

Rajiv menegaskan, harga komoditas yang telah melampaui HAP tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar. 

Pemerintah diminta merespons cepat situasi tersebut untuk menekan lonjakan harga yang lebih tinggi. 

Rekomendasi Untuk Anda

"Saya mendorong gerakan pasar murah diperbanyak, karena ini menjadi salah satu solusi cepat untuk mengendalikan harga-harga yang beranjak naik menjelang Lebaran," ujar Rajiv

Meski menyoroti masalah harga, Rajiv mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Ia memastikan ketersediaan pangan nasional, terutama 9 komoditas strategis, terpantau aman dan tercukupi sejak menjelang hingga sepekan setelah Lebaran.

“Masyarakat jangan khawatir, sejauh ini cadangan pangan kita cukup berlimpah. Bahkan saat ini neraca pangan 9 komoditas strategis kita hingga April 2026 dalam kondisi surplus” ungkap Rajiv

Kendati demikian, Rajiv mengingatkan pemerintah agar tidak lengah pasca-Lebaran. Meskipun proyeksi pasokan aman, stabilitas harga dan kelancaran distribusi harus terus dijaga agar daya beli masyarakat tidak terbebani usai hari raya. 

Ia memastikan Komisi IV DPR RI akan terus melakukan pengawalan terhadap kebijakan pangan nasional. 

"Agar keberhasilan pemerintah tidak hanya terlihat pada angka neraca nasional, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat di pasar-pasar tradisional dan pusat distribusi pangan di daerah," imbuh Rajiv

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas