Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Komisi V DPR Desak Evaluasi Perlintasan Sebidang dan Sistem Persinyalan KAI

Pembangunan flyover atau underpass di kawasan dengan lalu lintas padat dinilai mendesak guna menekan potensi kecelakaan kereta api.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Komisi V DPR Desak Evaluasi Perlintasan Sebidang dan Sistem Persinyalan KAI
TRIBUNNEWS/HERUDIN
EVAKUASI KORBAN - Konidisi kereta yang bertabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). TRIBUNNEWS/HERUDIN 
Ringkasan Berita:

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi V DPR RI mendesak evaluasi menyeluruh terhadap perlintasan sebidang dan sistem persinyalan kereta api pasca kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek yang menyeruduk KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, menilai insiden tersebut menjadi alarm serius bagi sistem keselamatan dan manajemen operasional perkeretaapian nasional. 

Ridwan menegaskan pentingnya pembenahan pada titik rawan, khususnya perlintasan sebidang yang masih mengandalkan sistem manual.

"Sehingga perlu ditingkatkan melalui sistem yang lebih modern," kata Ridwan kepada wartawan, Selasa (28/4/2026).

Ridwan menekankan, penggunaan palang pintu manual di perlintasan sebidang yang dioperasikan masyarakat masih berisiko tinggi. Karena itu, menurutnya, perlu percepatan penerapan sistem otomatis serta peningkatan keterlibatan petugas resmi di lapangan. 

"Selain itu, pembangunan flyover atau underpass di kawasan dengan lalu lintas padat dinilai mendesak guna menekan potensi kecelakaan serupa," ujar legislator Partai Golkar itu.

Rekomendasi Untuk Anda

Ridwan juga menyoroti lemahnya sistem persinyalan dan komunikasi operasional. 

Dia menilai teknologi yang ada seharusnya mampu memberikan informasi real-time kepada masinis dan petugas stasiun untuk mencegah tabrakan, terutama dalam situasi darurat.

Baca juga: Menko AHY: Gerbong Perempuan dan Laki-Laki Sama-sama Berisiko, Jangan Bedakan Gender

Adanya jeda waktu antara insiden awal dan tabrakan susulan dinilai sebagai indikasi perlunya investigasi mendalam, baik dari sisi human error maupun keandalan sistem teknologi. 

"Mendorong evaluasi total dan investigasi transparan agar kepercayaan publik dapat dipulihkan, sekaligus memastikan keselamatan menjadi prioritas utama dalam transportasi kereta api," tandasnya.

Insiden bermula saat KRL Commuter Line dari arah Jakarta menuju Cikarang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.

Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek relasi Stasiun Gambir-Stasiun Pasar Turi Surabaya dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur Senin malam, 27 April 2026  mengakibatkan 15 orang meninggal dunia dan 84 penumpang luka-luka. 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas