Jelang Pengumuman Pertumbuhan Ekonomi RI, IHSG Dibuka Merosot ke Level 6.968
Hingga 3 menit perdagangan dimulai sekitar pukul 09.03 WIB, IHSG makin anjlok 0,65 persen atau 54,46 poin ke posisi 6.926,49.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- IHSG dibuka melemah ke 6.926 di awal perdagangan Selasa.
- Tekanan dipicu sentimen global, rupiah melemah, dan jelang rilis data PDB.
- Analis sarankan investor selektif dan disiplin manajemen risiko di pasar volatil.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (5/5/2026) dibuka ke zona merah menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tercatat, IHSG dibuka ambles ke level 6.968,57 dari posisi penutupan kemarin 6.971,95.
Hingga 3 menit perdagangan dimulai sekitar pukul 09.03 WIB, IHSG makin anjlok 0,65 persen atau 54,46 poin ke posisi 6.926,49.
Baca juga: Pergerakan IHSG Besok Diprediksi Lanjut Melemah, Rupiah dan Geopolitik Jadi Beban
Sejak dibuka hingga pukul tersebut, pergerakan IHSG pada rentang 6.925 hingga 6.971.
Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp666 miliar dengan melibatkan 1,91 miliar lembar saham.
336 saham melemah, 179 saham menguat, dan 444 saham stagnan.
Sekedar mengingatkan, IHSG ditutup menguat tipis 0,22 persen ke level 6.971,95 pada Senin (4/5/2026).
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, pergerakan IHSG hari ini rawan terkoreksi dengan level support di 6.923 dan resistance di 7.033.
Menurutnya, pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen penting, seperti rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia, perkembangan geopolitik di Timur Tengah, serta pergerakan nilai tukar rupiah yang masih terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat.
Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) pada siang hari akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026.
Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang support di 6.917 dan 6.684, serta resistance di 7.119 dan 7.244.
Ia menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham, terutama yang memiliki fundamental solid, berada dalam kondisi undervalued, serta menunjukkan indikasi pembalikan arah.
“Investor juga perlu menerapkan manajemen risiko secara disiplin di tengah dinamika pasar saat ini,” tambahnya.
Baca tanpa iklan