Bursa RI Masih Berdarah, Analis Beberkan Pemicunya
Usulan revisi aturan terkait kenaikan tarif royalti tambang, seperti emas dan tembaga, memberikan sentimen negatif ke emiten sektor tersebut.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sesi pertama perdagangan Senin (11/5/2026) berakhir di zona merah.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup anjlok 1,14 persen atau 79,13 poin ke level 6.890,27.
Sepanjang perdagangan, IHSG tidak pernah menyentuh zona hijau dengan rentang 6.846,63 hingga 6.968,93.
Baca juga: IHSG Ambruk Lagi ke Level 6.882, Sentimen Timur Tengah dan Royalti Tambang Tekan Pasar
Ada 462 saham melemah, 242 saham menguat, dan 255 saham stagnan atau tidak mengalami perubahan.
Nilai transaksi mencapai Rp11,43 triliun dengan melibatkan 22,83 miliar lembar saham.
Tercatat, pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026), IHSG berakhir anjlok 2,86 persen ke level 6.969,40.
Senior Technical Analyst, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, konflik Amerika Serikat–Iran masih menjadi sentimen global utama karena adanya kekhawatiran gangguan suplai energi.
Kondisi ini mendorong harga minyak Brent bertahan di atas USD100 per barel, sehingga meningkatkan risk-off sentiment (investor hindari investasi berisiko) di negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Dari domestik, rupiah masih dalam tekanan dan mengalami depresiasi pada Rp17.365 per dolar AS, seiring capital outflow asing (modal asing keluar) dan penurunan cadangan devisa Indonesia per April 2026 menjadi USD146,2 miliar," papar Nafan.
Selain itu, Nafan menyampaikan, usulan revisi aturan terkait kenaikan tarif royalti tambang, seperti emas dan tembaga, memberikan sentimen negatif bagi emiten di sektor komoditas tersebut karena faktor kekhawatiran investor terkait tergerusnya margin laba.
Kemudian, berdasarkan data terbaru dari GAIKINDO yang dirilis pada akhir pekan lalu, kinerja penjualan kendaraan roda empat di Indonesia per April 2026 mencatatkan lonjakan signifikan 55 persen YoY karena dipengaruhi low base effect dari April 2025, serta adanya faktor normalisasi distribusi sempat melemah pada Maret 2026 akibat faktor musiman Lebaran.
"Di sisi lain, market akan mencermati perilisan IKK (indeks kenyakinan konsumen) per April 2026 yang diproyeksikan mengalami normalisasi setelah lonjakan konsumsi rumah tangga yang masif selama periode Lebaran," kata Nafan.
Baca tanpa iklan