Rupiah Melemah, Anggota DPR Sarankan BI Naikkan Suku Bunga
Eric Hermawan meminta BI menaikkan suku bunga dan pedagang tak menaikkan harga saat rupiah tembus Rp17.600 per dolar AS.
Penulis:
Fersianus Waku
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Anggota Komisi XI DPR RI Eric Hermawan menyarankan BI menaikkan BI Rate untuk menahan pelemahan rupiah yang tembus Rp17.600 per dolar AS.
- Eric meminta pedagang dan pengusaha sembako tidak menaikkan harga sepihak karena dapat memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.
- Menurut Eric, pelemahan rupiah dipengaruhi kondisi ekonomi global, sementara pemerintah, BI, dan OJK dinilai terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan pasar modal.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan menyarankan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) guna meredam pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah hingga menembus Rp 17.600 per dollar AS pada pertengahan Mei 2026.
Selain itu, ia juga meminta pengusaha bahan pokok (sembako) tidak memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan harga.
"Bank Indonesia siang malam menjaga BI Rate supaya stabil, dan saya menyarankan ke BI agar menaikkan suku bunga agar ada perimbangan dolar, sehingga (dolar) turun," kata Eric saat dihubungi, Minggu (17/5/2026).
Terkait imbas pelemahan rupiah di lapangan, Politikus Partai Golkar ini memberikan catatan dan peringatan keras kepada para pedagang maupun pengusaha bahan kebutuhan pokok.
Eric meminta agar pengusaha sembako tidak melakukan spekulasi dengan menaikkan harga secara sepihak.
Pasalnya, tindakan tersebut akan memicu lonjakan inflasi yang dampaknya langsung memukul daya beli masyarakat bawah.
Baca juga: Ekonom: Pernyataan Prabowo Anggap Enteng Pelemahan Rupiah Membahayakan Masyarakat, Termasuk di Desa
Lebih lanjut, Eric menjelaskan bahwa terperosoknya nilai tukar rupiah saat ini didorong oleh banyak faktor, terutama dinamika perekonomian global yang dirasakan oleh hampir seluruh negara di dunia.
Oleh karena itu, ia menepis anggapan bahwa pelemahan rupiah terjadi karena institusi yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yakni Kementerian Keuangan, BI, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tidak bekerja keras.
"Pemerintah melalui Menteri Keuangan sudah berupaya keras menahan laju dolar dengan beberapa program perbankan yang meningkatkan pertumbuhan UMKM dan sektor korporasi," jelas Eric.
Sementara itu, dari sisi pasar modal, Eric menilai OJK juga telah melakukan upaya maksimal untuk menstabilkan bursa saham.
Ia menambahkan, langkah-langkah koreksi wajar terus dilakukan OJK agar bursa tetap sehat dan dapat diterima oleh masyarakat di tengah guncangan nilai tukar. (*)