IBC Mulai Produksi BESS Juli 2026, Dukung Program Listrik Hijau 100 GW
Pemerintah mempercepat transisi energi melalui penambahan kapasitas pembangkit listrik hijau berkapasitas 100 Gigawatt.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Pemerintah mempercepat transisi energi melalui penambahan kapasitas pembangkit listrik hijau berkapasitas 100 Gigawatt.
- Program ini membutuhkan dukungan Battery Energy Storage System (BESS) untuk menjaga stabilitas pasokan listrik yang berasal dari PLTS.
- BESS berfungsi menyimpan energi listrik dari panel surya, menjaga stabilitas jaringan, hingga menjadi penyangga saat beban puncak listrik meningkat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah mempercepat transisi energi melalui penambahan kapasitas pembangkit listrik hijau berkapasitas 100 Gigawatt (GW) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Program ini akan banyak ditopang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang membutuhkan Battery Energy Storage System (BESS) untuk menjaga stabilitas pasokan listrik.
Di tengah kebutuhan tersebut, Indonesia Battery Corporation (IBC) memastikan kesiapan produksi BESS melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang mulai paruh kedua 2026.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, fasilitas produksi perusahaan sudah siap beroperasi setelah Juli 2026. "Kita sudah ready untuk berproduksi setelah Juli itu," tutur Aditya di acara Bincang-bincang Baterai di Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Kesiapan tersebut membuat IBC mampu mendukung program 100 GW yang mulai bergulir tahun ini, terutama setelah proyek memasuki tahap Commercial Operation Date (COD).
"Artinya IBC siap untuk support. Once ini sudah COD, sudah commercial operation, IBC kami pastikan siap support," ungkap Aditya.
Dalam proyek pengembangan PLTS skala besar, BESS berfungsi menyimpan energi listrik dari panel surya, menjaga stabilitas jaringan, hingga menjadi penyangga saat beban puncak listrik meningkat.
Baca juga: PLN-Total Eren-Adaro Power-PJBI Tandatangani PJBTL PLTB dengan Teknologi BESS Pertama di Indonesia
Karena itu, kebutuhan terhadap sistem penyimpanan energi diperkirakan mencapai ratusan Gigawatt-jam (GWh). Aditya menambahkan, kapasitas produksi CATIB secara tahunan diperkirakan berada di kisaran 3 GWh hingga 4 GWh.
Dengan asumsi produksi berjalan efektif mulai semester kedua tahun ini, IBC memperkirakan kapasitas yang dapat disuplai hingga akhir 2026 mencapai 1,5 GWh hingga 2 GWh.
"Itu saya harus lihat lagi, karena apa, itu ada production planning-nya. Tapi per tahun itu kita sudah bisa produksi di sekitar 3 giga sampai 4 giga. Jadi kalau kita bagi katakanlah jadi setengah tahun, berarti 1,5 giga sampai 2 giga, itu kita sudah bisa support sebetulnya," ujarnya.
Baca juga: Kembangkan Energi Baru Terbarukan, Indonesia Jajaki Proyek PLTS 495 MW di Bangladesh
PT CATIB sendiri merupakan perusahaan patungan antara konsorsium BUMN pertambangan Indonesia di bawah MIND ID dengan konsorsium CBL yang terdiri dari Contemporary Amperex Technology Co. Limited, Brunp, dan Lygend. Pabrik baterai ini berlokasi di kawasan Artha Industrial Hills, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Meski kebutuhan BESS diperkirakan meningkat seiring program energi hijau nasional, Aditya memastikan IBC juga tetap membidik pasar kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV).
"Kita akan satisfy kedua-duanya. Jadi baik BESS maupun EV. Tapi yang penting mana market yang bisa kita secure duluan. Itu menjadi yang paling penting," jelasnya.