Siang Ini, Rupiah Terjun ke Level Rp17.727 per Dolar AS
Rupiah kembali melemah akibat sentimen ketidakpastian global, yang membuat investor global mengalihkan dananya ke instrumen lebih aman.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Rupiah pada perdagangan Selasa siang melemah ke Rp17.727 per dolar AS dipicu sentimen global dan penguatan aset safe haven seperti dolar AS serta emas.
- Analis Doo Financial Futures menilai pernyataan Presiden Prabowo soal pelemahan rupiah turut direspons negatif oleh investor dan tidak mendukung pergerakan rupiah.
- Ekonom BSI menyebut tekanan rupiah juga dipengaruhi risiko fiskal domestik, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian geopolitik global.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berlanjut hingga perdagangan Selasa (19/5/2026) siang.
Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 11.29 WIB, rupiah merosot ke level Rp17.727 dari posisi penutupan kemarin Rp 17.668 per dolar AS.
Rupiah pagi tadi buka di posisi Rp 17.679 per dolar AS.
Baca juga: Menkeu Purbaya Minta Rakyat Tak Khawatir di Tengah Rupiah Melemah: Saya Senyum Terus
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong sebelumnya menyampaikan, rupiah kembali melemah akibat sentimen ketidakpastian global, yang membuat investor global mengalihkan dananya ke instrumen lebih stabil dan aman atau safe haven, seperti dolar AS maupun emas.
"Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off (aksi jual) semua asset termasuk obligasi, saham, crypto dan mata uang oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi Jinping dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran," papar Lukman.
Selain itu, Lukman menyebut pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menganggap enteng pelemahan rupiah disambut negatif dari investor.
Prabowo seakan tidak memperdulikan pelemahan rupiah karena orang desa dalam kehidupannya tidak menggunakan dolar AS.
"Pidato Prabowo umumnya juga direspon negatif investor dan tidak mendukung rupiah," ucap Lukman.
"Dengan kecepatan perlemahan saat ini, mungkin saja (tembus Rp18.000 per dolar AS)," sambung Lukman.
Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo, menyebut faktor utama pelemahan rupiah saat ini berasal dari tekanan global, antara lain penguatan dolar AS, kenaikan harga energi, dan sentimen risk-off akibat eskalasi geopolitik.
Dari sisi domestik, pasar juga memberi perhatian lebih besar pada arah kebijakan fiskal, terutama potensi kenaikan beban subsidi energi ketika harga minyak tetap tinggi, kebutuhan pembiayaan yang meningkat, serta tantangan penerimaan negara.
"Yield SBN yang tinggi juga dapat meningkatkan beban bunga dan rasio pembayaran utang, sehingga biaya pembiayaan pemerintah menjadi lebih mahal," katanya dikutip dari Kontan.
Ia menyebut, selama sentimen global masih risk-off dan arus keluar modal belum mereda, tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut dengan volatilitas yang tetap tinggi.
"Sentimen utama yang perlu dicermati mencakup eskalasi geopolitik, arah yield UST dan kebijakan The Fed, pergerakan harga minyak, arus investor asing di SBN, realisasi fiskal termasuk subsidi energi, serta konsistensi komunikasi kebijakan," paparnya.