Menkeu Purbaya Ungkap Defisit APBN 2026 Rp164,4 Triliun Per April
Defisit APBN 2026 mencapai Rp 164,4 triliun berdasarkan data per April 2026, setara dengan 0,64 persen dari PDB.
Penulis:
Rizki Sandi Saputra
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Defisit APBN 2026 mencapai Rp 164,4 triliun berdasarkan data per April 2026, setara dengan 0,64 persen dari PDB.
- Realisasi pendapatan negara di bulan ini naik 13,3 persen secara tahunan dan naik 16 persen dari sisi pendapatan terhadap pajak.
- Keseimbangan primer mencatatkan surplus Rp 28 triliun dan dari sisi pembiayaan anggaran, realisasinya mencapai Rp 298,5 triliun atau 43,3 persen dari target.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Keuangan RI menyatakan, defisit pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 mencapai Rp 164,4 triliun berdasarkan data per April 2026.
Angka tersebut setara dengan 0,64 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit APBN 2026 terjadi karena pendapatan negara yang diterima lebih rendah dibandingkan kebutuhan belanja negara yang cenderung meningkat.
Namun, realisasi defisit ini lebih rendah jika dibandingkan dengan posisi Maret 2026 yang sebesar 0,93 persen PDB.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bilang, pendapatan negara hingga April 2026 mencapai Rp 918,4 triliun atau setara 29,1 persen dari target pendapatan di APBN 2026 sebesar Rp 3.153,6 triliun.
"Pendapatan negara 918,4 triliun atau tumbuh 13,3 persen. Belanja negara 1.082,8 triliun itu 34,3 persen dari PDB. Defisitnya 164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB," kata Purbaya di acara jumpa pers di kantor Kementerian Keuangan RI, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Angka defisit bulan April ini turun jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp240,1 triliun. "Kemarin waktu keluar di bulan Maret berapa sih? 0,93 bulan Maret," kata Purbaya.
Realisasi pendapatan negara di bulan ini naik 13,3 persen secara tahunan alias year on year (yoy) dan pendapatan terhadap pajak naik 16 persen yoy.
"Artinya kita akan usahakan ke arah sana. Ini jelas bagus prospeknya dibanding tahun lalu. Ketika kita babak belur Pak Bimo ya tahun lalu kan negatif ya pertumbuhannya pajaknya," kata Purbaya.
Dia menjelaskan, capaian defisit yang lebih rendah tersebut merupakan hal yang positif terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Baca juga: Ekonom Ingatkan Pemerintah Defisit APBN Bisa Mencapai 4 Persen
Dengan kinerja APBN tersebut, keseimbangan primer mencatatkan surplus sebesar Rp 28 triliun. Sementara, dari sisi pembiayaan anggaran, realisasinya mencapai Rp 298,5 triliun atau 43,3 persen dari target.
"Keseimbangan primernya sudah surplus lagi Rp28 triliun dan ke depan mungkin akan terus membaik," kata Purbaya.