Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Rupiah Melemah tapi Prabowo Santai, CELIOS Minta Presiden Tak Denial: Harus Akui Kondisi Sebenarnya

Bhima mengatakan, banyak data yang diumumkan pemerintah dinilai tidak sesuai dengan kondisi di lapangan dan daya beli masyarakat saat ini tertekan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Rifqah
Editor: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Prabowo sebelumnya mengaku merasa heran dengan pihak-pihak yang panik karena rupiah melemah. Padahal, menurutnya kondisi ekonomi di Indonesia saat ini masih sangat stabil
  • Sikap Prabowo yang santai itu dinilai beda oleh Bhima karena menurutnya Presiden tidak boleh denial dengan keadaan.
  • Bhima mengatakan, dari sisi masyarakat, banyak data yang diumumkan pemerintah dinilai tidak sesuai dengan kondisi di lapangan dan daya beli masyarakat saat ini tertekan.

 

TRIBUNNEWS.COM - Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, meminta agar Presiden Prabowo Subianto mengakui kondisi sebenarnya yang menjadi penyebab rupiah melemah.

Nilai tukar rupiah sebelumnya melemah hingga Rp17.717 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pada hari ini, Senin (25/5/2026), rupiah dikabarkan menguat tipis di tengah dinamika global, yakni tercatat naik sebesar 0,12 persen ke posisi Rp17.696 per dolar AS.

Meski demikian, pergerakan mata uang rupiah ini masih akan terus berfluktuasi mengikuti arus modal masuk (inflow) dan keluar (outflow) di pasar keuangan domestik.

Saat menanggapi nilai tukar rupiah itu, Prabowo sebelumnya mengaku merasa heran dengan pihak-pihak yang panik karena rupiah melemah.

Padahal, menurutnya kondisi ekonomi di Indonesia saat ini masih sangat stabil dan menyebutkan bahwa orang desa tidak memakai dolar.

Namun, sikap Prabowo itu dinilai beda oleh Bhima karena menurutnya Presiden tidak boleh denial dengan keadaan.

Rekomendasi Untuk Anda

"Jangan pernah denial. Jadi harus akui kondisi sebenarnya, memang APBN-nya berat, penerimaan negaranya juga berat," ucapnya, dikutip dari YouTube Fristian Griec Media, Senin.

Adapun, penyebab rupiah melemah karena kuatnya nilai tukar dolar AS secara global, akibat konflik di Timur Tengah, dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi domestik seperti tingginya kebutuhan devisa untuk impor serta pembayaran utang luar negeri.

Bhima pun mengatakan, dari sisi masyarakat, banyak data yang diumumkan pemerintah dinilai tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

"Mulai dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga di atas 5 persen pada kuartal pertama kemarin. Tapi begitu kita cek, impor barang konsumsi 1 tahun terakhir itu minusnya 10 persen."

"Artinya kan masyarakat masih mengandalkan impor sebagian, termasuk pangan. Kalau itu turun, tapi pertumbuhan konsumsinya naik tinggi, ini kan berarti datanya enggak matching," jelas Bhima.

Baca juga: Prabowo Targetkan Nilai Tukar Rupiah Rp16.800-17.500 pada 2027, Ekonom: Banyak PR Besar Pemerintah

Selain itu, kata Bhima, daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah saat ini yang paling tertekan karena berbagai kebutuhan hidup meningkat.

Sementara, dalam kondisi ini, pendapatan semakin sulit dan lapangan kerja formal juga terbatas.

"Nah, di kelompok inilah yang sebenarnya tidak mendapatkan perhatian banyak dari pemerintah. Jadi, mereka juga enggak enggak siap ketika menghadapi tekanan-tekanan ekonomi. Mereka akan terancam miskin."

"10 tahun terakhir kita kehilangan 10 juta kelompok menengah, 1 tahun kemarin 1,1 juta kelas menengah itu turun kelas. Artinya ini situasi yang sangat-sangat serius dan rupiah ini harus jadi perhatian karena dalam 3 tahun terakhir pelemahannya sudah 19 persen," tegas Bhima.

Prabowo sebelumnya juga menyampaikan bahwa di tengah kepanikan banyak negara karena nilai tukar mata uang melemah, Indonesia justru berada dalam posisi aman.

Hal tersebut, kata Prabowo, dibuktikan dengan ketangguhan ekonomi Indonesia yang membantu negara lain dalam urusan pupuk dan pangan karena sejumlah negara besar membeli kebutuhan itu dari Indonesia.

Selain faktor internal, Prabowo menyebut stabilitas rupiah ini juga didukung oleh politik luar negeri 'tetangga baik' yang dijalankan. 

Dengan menjaga hubungan baik dengan China serta negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, Indonesia bisa fokus membangun ekonomi dalam negeri.

Prabowo Targetkan Nilai Tukar Rupiah Rp16.800-17.500 pada 2027

Meski menanggapinya dengan santai, Prabowo sebelumnya juga menyampaikan bahwa dirinya menarget nilai tukar rupiah pada 2027 nanti bisa Rp17.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

Untuk mencapai hal tersebut, Prabowo menekankan bahwa pemerintah harus menerapkan strategi fiskal dan moneter untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil.

"Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia," ucap Prabowo saat menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 dalam rapat paripurna DPR di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Selain nilai tukar rupiah, Prabowo mengatakan bahwa Pemerintah sekarang ini masih terus berupaya untuk mengendalikan laju inflasi.

"Inflasi akan tetap kami jaga 1,5 hingga 3,5 persen," katanya.

Dalam pidato yang dihadiri oleh para pimpinan lembaga negara dan Ketum Parpol tersebut, Prabowo juga menyampaikan target pemerintah dalam penurunan angka kemiskinan, dari tadinya 6,5-7,0 persen, menjadi 6,0-6,5 persen.

Tingkat pengangguran terbuka juga ditargetkan  turun pada rentang 4,30-4,87 persen, dari target sebelumnya 4,44-4,96 persen.

"Defisit kita di tahun 2027, defisit APBN akan kami jaga pada kisaran 1,80 hingga maksimal 2,40 persen PDB, dan kita akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit ini," ujar Prabowo.

(Tribunnews.com/Rifqah)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas