Rupiah Pekan Ini Bisa Tembus Rp18.150 per Dolar AS
Pelemahan rupiah masih disebabkan geopolitik di Timur Tengah, di mana draf kesepakatan antara Iran-Amerika Serikat belum menemukan titik kesepakatan.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Pengamat Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah berpotensi melemah ke Rp18.150 per dolar AS pada pekan pertama Juni akibat ketegangan Iran-AS dan penguatan dolar.
- Inflasi AS yang masih tinggi dinilai membuat suku bunga The Fed bertahan tinggi lebih lama.
- Ekonom Syafruddin Karimi memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.400 per dolar AS pada semester II 2026.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kurs rupiah pada pekan pertama Juni 2026 diprediksi mengalami pelemahan seiring masih kuatnya sentimen negatif dari ketegangan kawasan Timur Tengah.
"Rupiah kemungkinan besar akan menuju level Rp18.150 di minggu pertama di bulan Juni," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dikutip Senin (1/6/2026).
Tercatat, nilai tukar rupiah di pasar spot pagi tadi dibuka Rp17.853 per dolar AS menguat 0,16 persen dibanding penutupan Jumat (29/5/2026) di level Rp17.881 per dolar AS.
Baca juga: Pelemahan Rupiah Jadi Sorotan Media Asing, Purbaya: Ekonomi Kami Kuat
Ibrahim menjelaskan, pelemahan rupiah masih disebabkan geopolitik di Timur Tengah, di mana draf kesepakatan antara Iran-Amerika Serikat belum menemukan titik kesepakatan.
"Trump (Presiden AS) meminta pengayaan uranium Iran dimansukkan ke dalam draf kesepakatan damai, tetapi pihak Iran tidak memasukannya," papar Ibrahim.
Di tengah perencanaan damai itu, AS melakukan penyerangan ke Iran dan serangan balasan membuat sejumlah pesawat negeri Paman Sam jatuh.
Atas kondisi ini, Inggris melalui badan operasi perdagangan maritim turut memperingatkan terhadap dunia internasional bahwa blokade militer di pelabuhan Iran masih berlaku sehingga membatasi lalu lintas masuk dan keluar.
Walaupun banyak kapal yang sudah mendapatkan izin keluar dari Iran melalui Selat Hormuz, tetapi di laut internasional ini kapal-kapal yang sudah keluar dari Selat Hormuz juga disuruh kembali lagi ke dalam, masuk ke Selat Hormuz.
Kondisi tersebut, membuat transportasi masih akan tersedat sehingga membuat inflasi akan tetap tinggi.
Inflasi tinggi akan mempengaruhi Bank Sentral Amerika untuk tetap mempertahankan suku bunga, bahkan akan menaikkan suku bunga satu kali.
Harga-harga di Amerika, terutama gasolin terus mengalami kenaikan, ini yang berdampak terhadap inflasi sehingga inflasi tinggi akan berdampak terhadap pernyataan dari Bank Sentral Amerika yang kemungkinan besar dalam pertemuan Juni masih akan mempertahankan suku bunga tinggi.
“Ini sebenarnya yang membuat dolar menguat cukup tajam. Di sisi lain pun juga pada saat harga emas dunia maupun logam mulia mengalami penurunan, ini adalah kesempatan bagi Bank Sentral Global untuk membeli logam mulia secara besar-besaran,” papar Ibrahim.
Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi memaparkan, terdapat lima faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan rupiah pada paruh kedua tahun ini.
Pertama, arah suku bunga global dan kekuatan dolar AS masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arus modal ke negara berkembang.
Jika imbal hasil aset berbasis dolar tetap tinggi, investor akan meminta premi risiko yang lebih besar untuk menahan aset berdenominasi rupiah.
Kedua, kredibilitas kebijakan Bank Indonesia menjadi kunci penting.
Kenaikan suku bunga acuan ke level 5,25 persen menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas, namun pasar masih menunggu konsistensi komunikasi dan efektivitas intervensi yang dilakukan.
Ketiga, kinerja sektor eksternal perlu diperkuat mengingat pertumbuhan impor saat ini lebih cepat dibandingkan ekspor.
Di sisi lain, surplus neraca perdagangan juga mulai menyempit dibandingkan tahun sebelumnya.
Keempat, persepsi risiko terhadap Indonesia turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar.
Syafruddin mencatat credit default swap (CDS) tenor lima tahun yang berada di kisaran 90 basis poin serta yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sekitar 6,7% menunjukkan pasar masih meminta kompensasi risiko yang relatif tinggi.
Kelima, kualitas kebijakan fiskal akan menjadi faktor penentu dalam menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Belanja pemerintah harus memperkuat produktivitas, ekspor, dan basis penerimaan negara agar rupiah memperoleh dukungan fundamental yang lebih kokoh,” ucap Syafruddin dikutip dari Kontan.
Syafruddin memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang yang lebih lemah, yakni Rp 17.900 hingga Rp 18.400 per dolar AS pada semester II-2026.
Titik tengah proyeksinya berada di kisaran Rp 18.150 hingga Rp 18.250 per dolar AS.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.