Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Rupiah Makin Ambles Pagi Ini, Pengamat Prediksi Bisa Tembus Rp 19.000

Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi dan di pasar spot diperdagangkan Rp18.129 per dolar AS.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Rupiah Makin Ambles Pagi Ini, Pengamat Prediksi Bisa Tembus Rp 19.000
Tribunnews/Jeprima
MELEMAH LAGI - Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi dan di pasar spot diperdagangkan Rp18.129 per dolar AS. Pelemahan rupiah dan penurunan pasar saham dipicu oleh sejumlah faktor eksternal dan berpotensi tembus Rp19.000 per dolar. 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi dan di pasar spot diperdagangkan Rp18.129 per dolar AS.
  • Pelemahan rupiah dan penurunan pasar saham dipicu oleh sejumlah faktor eksternal dan berpotensi tembus Rp19.000 per dolar.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi. Berdasarkan data di pasar spot Senin (8/6), kurs USD/IDR tercatat berada di level 18.129,50, atau berarti 1 dolar AS setara Rp18.129,50.

Dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya, pelemahan rupiah juga terlihat lebih dalam. Pada saat yang sama, dolar AS tercatat berada di level 31,63 terhadap dolar Taiwan (TWD), 1.549,98 terhadap won Korea Selatan (KRW), dan 61,69 terhadap peso Filipina (PHP).

Pengamat ekonomi dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah dibuka melemah cukup tajam hingga berada di level Rp18.129 per dolar AS. Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan signifikan.

"Ada kemungkinan besar kalau saya lihat dari kondisi saat ini level Rp19.000 di akhir bulan ini kemungkinan akan tercapai," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin.

Ibrahim menjelaskan, pelemahan rupiah dan penurunan pasar saham dipicu oleh sejumlah faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurutnya, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, serta eskalasi konflik Israel di kawasan Timur Tengah telah meningkatkan ketidakpastian pasar global.

Kondisi tersebut mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman, sehingga permintaan terhadap dolar AS meningkat dan membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan.

Baca juga: Tahan Rupiah Tak Makin Terpuruk, Pengusaha Minta Pemerintah Jaga Kepercayaan Investor

Rekomendasi Untuk Anda

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik juga menambah tekanan terhadap perekonomian negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang masih kuat membuat pasar memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

"Karena memang inflasi yang cukup tinggi membuat apa? Membuat kebijakan Bank Sentral Global ini akan mempertahankan suku bunga dan menaikkan suku bunga," tutur Ibrahim.

Selain faktor global, Ibrahim menilai sejumlah faktor domestik juga turut memberikan tekanan terhadap rupiah.

Kenaikan harga minyak dunia diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Kondisi ini berpotensi memperbesar tekanan terhadap neraca transaksi berjalan dan anggaran pemerintah.

Menurutnya, pemerintah juga menghadapi tantangan berupa meningkatnya kebutuhan subsidi energi apabila harga minyak dunia terus naik.

Di sisi lain, laju inflasi yang mulai meningkat serta surplus neraca perdagangan yang semakin menyempit turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Baca juga: Rupiah Melemah, Industri Otomotif Hadapi Tekanan Berat 2-3 Bulan ke Depan

"Nah, di sisi lain pun juga kemarin kita melihat bahwa data untuk inflasi pun juga terus mengalami kenaikan, bahkan di bulan Juni ini pun juga akan mengalami kenaikan. Kemudian neraca perdagangan surplus tapi juga menyempit. Apalagi dibarengi dengan diturunkan Modys menurunkan peringkat utang dan antara menjadi negatif, ini pun juga membuat ketegangan tersendiri," tegas Ibrahim.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini juga diikuti keluarnya dana investor dari pasar keuangan domestik.

Ia menilai kekhawatiran investor tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dari kebutuhan pendanaan berbagai program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah apabila harga minyak tetap berada di level tinggi.

Meski demikian, Ibrahim mengatakan pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Menurutnya, intervensi di pasar keuangan telah dilakukan. Pemerintah juga berupaya menarik dana melalui lelang surat utang negara. Namun, ia menilai langkah tersebut belum mampu meredam tekanan yang terjadi di pasar.

Ia menambahkan, pelaku pasar kini akan mencermati langkah lanjutan pemerintah dan otoritas keuangan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta pasar modal Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

"Mereka melakukan intervensi di pasar keuangan, bahkan pemerintah pun juga melakukan lelang obligasi, tetapi rupanya lelang obligasi yang dilakukan oleh pemerintah gagal total. Inilah yang membuat indeks harga saham gabungan, kemudian rupiah mengalami pelemahan," tutur Ibrahim.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas