Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Ekspor Batik Naik 13 Persen, Kemenperin Perluas Pasar ke Ekosistem Haji dan Umrah

Nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai 30,62 juta dolar AS atau tumbuh 13,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya 26,63 juta dolar AS.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Ekspor Batik Naik 13 Persen, Kemenperin Perluas Pasar ke Ekosistem Haji dan Umrah
Tribunnews.com/HO
EKSPOR BATIK - Aktivitas perajin Batik Tulis Lasem di Lasem, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai 30,62 juta dolar AS atau tumbuh 13,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 26,63 juta dolar AS. 

Ringkasan Berita:
  • Nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai 30,62 juta dolar AS atau tumbuh 13,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 26,63 juta dolar AS.
  • Meningkatnya minat generasi muda terhadap batik menjadi peluang besar bagi pelaku usaha untuk berkembang.
  • Industri batik masih menghadapi tantangan maraknya produk tekstil bermotif batik yang kerap dianggap sebagai batik asli oleh konsumen.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri batik nasional terus menunjukkan kinerja positif di tengah tantangan pasar. Selain menjadi identitas budaya Indonesia, batik juga semakin diminati pasar global yang tercermin dari pertumbuhan nilai ekspornya sepanjang 2025.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai 30,62 juta dolar AS atau tumbuh 13,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 26,63 juta dolar AS.

"Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa batik Indonesia masih memiliki daya saing yang kuat di pasar global. Karena itu, pemerintah terus memperkuat ekosistem industri batik melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha, penguatan daya saing produk, serta perluasan akses pasar yang berkelanjutan," tutur Agus melalui keterangan, Senin (8/6/2026).

Untuk memperluas pasar, Kementerian Perindustrian mendorong pemanfaatan peluang pada ekosistem haji dan umrah. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka pasar baru bagi industri batik nasional, khususnya yang telah memiliki sertifikasi Batikmark.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menilai, meningkatnya minat generasi muda terhadap batik menjadi peluang besar bagi pelaku usaha untuk berkembang.

"Batik kini tidak hanya dikenakan dalam acara formal atau tradisional, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari. Tren ini menjadi momentum yang sangat baik bagi IKM batik untuk meningkatkan kapasitas usaha dan memperluas jangkauan pasar," jelas Reni.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurutnya, masuknya batik ke ekosistem haji dan umrah sejak 2024 sebagai bagian dari seragam dan perlengkapan jamaah turut memperkuat posisi industri batik di pasar domestik.

Baca juga: Dari Hobi Jadi Cuan, Perajin Batik Lasem Tembus Pasar Internasional dengan Omzet Rp 150 Juta

Meski demikian, industri batik masih menghadapi tantangan maraknya produk tekstil bermotif batik yang kerap dianggap sebagai batik asli oleh konsumen.

"Produk tekstil bermotif batik pada dasarnya bukan batik karena tidak dibuat menggunakan lilin batik atau malam. Batik asli hanya terdiri atas batik tulis, batik cap atau kombinasi keduanya yang seluruh prosesnya menggunakan teknik pembatikan," ungkap Reni.

Untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha, Kemenperin bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI) menggelar Bimbingan Teknis Peningkatan Efisiensi Produksi IKM Batik di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada 19-22 Mei 2026.

Kegiatan yang diikuti 18 IKM batik tersebut berfokus pada penerapan teknologi sederhana guna menekan biaya produksi.

Direktur IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan Budi Setiawan menyampaikan, peserta mendapatkan pelatihan pemanfaatan kembali lilin batik bekas pakai serta pembuatan cap batik alternatif berbahan kertas.

Baca juga: Setengah Abad Canting Kangkung, saat Pelestari Batik Lukis Solo Berkumpul untuk Mendunia

"Lilin batik bekas yang diolah kembali dapat mengurangi konsumsi bahan baku dan menekan biaya produksi. Sementara itu, cap batik berbahan kertas lebih ekonomis, mudah dibuat dan dapat menjadi alternatif yang efektif dibandingkan cap berbahan logam," terang Budi.

Ia optimistis inovasi tersebut dapat membantu pelaku IKM menurunkan harga pokok produksi sekaligus mendukung penerapan industri hijau melalui pengurangan limbah.

"Saat ini konsumen semakin peduli terhadap aspek keberlanjutan. Produk batik yang memiliki nilai budaya tinggi, diproduksi secara ramah lingkungan, dan ditawarkan dengan harga yang kompetitif tentu akan memiliki daya tarik yang lebih kuat di pasar," ujar Budi.

 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas