Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Okupansi Mal Masih Stabil di Tengah Pelemahan Rupiah dan Lonjakan Biaya Energi

Okupansi pusat perbelanjaan masih relatif stabil di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Okupansi Mal Masih Stabil di Tengah Pelemahan Rupiah dan Lonjakan Biaya Energi
Tribunnews.com/Lita Febriani
OKUPANSI MAL - Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja di acara HIPPINDO 10th Anniversary di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6/2026). (Tribunnews.com/Lita Febriani). 

Ringkasan Berita:
  • Okupansi pusat perbelanjaan masih relatif stabil di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
  • Berdasarkan data APPBI, tingkat okupansi pusat perbelanjaan secara nasional saat ini berada pada kisaran 85-90 persen.
  • Pelemahan rupiah berdampak pada lonjakan pada biaya operasional pusat perbelanjaan karena adanya komponen biaya yang dibayar menggunakan dolar AS.
 
 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Okupansi pusat perbelanjaan masih relatif stabil di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan lonjakan biaya energi.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, kenaikan dolar AS berimbas pada sejumlah komponen biaya operasional, terutama bahan bakar non-subsidi dan gas yang digunakan sektor komersial.

"Biaya logistik naik karena akibat solar non-subsidi naiknya luar biasa. Pusat perbelanjaan ataupun sektor transportasi tidak menggunakan BBM subsidi, sehingga biaya logistik ikut naik," kata Alphonzus di acara HIPPINDO 10th Anniversary di kantor Kementerian Perdagangan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).

Kenaikan nilai tukar dolar AS juga berdampak pada naiknya harga gas, khususnya Compressed Natural Gas (CNG), karena terdapat komponen harga yang mengacu pada mata uang AS.

"Harga gas terutama CNG itu naik karena PGN ataupun Pertamina menjual harganya ada komponen US dollar-nya. Itu berubah terus sehingga hampir setiap bulan terjadi kenaikan," jelasnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Alphonzus, tekanan akibat penguatan dolar tidak hanya dirasakan pada biaya logistik, tetapi juga berbagai kebutuhan energi yang digunakan dalam operasional pusat perbelanjaan.

Meski demikian, kondisi tersebut belum berdampak signifikan terhadap tingkat hunian atau okupansi pusat perbelanjaan.

Alphonzus menyebut tingkat okupansi mal di Indonesia masih relatif stabil karena ruang yang ditinggalkan sejumlah tenant dapat diisi oleh merek-merek baru, termasuk brand asing yang masuk ke pasar Indonesia.

Baca juga: Tenant Baru Ramaikan Pusat Perbelanjaan Jakarta, Pasar Kondominium Lesu

"Okupansi termasuk relatif stabil karena ada yang memang tutup, tetapi di satu sisi ada juga yang baru, merek-merek dari luar negeri dan merek-merek dari China. Jadi secara rata-rata stabil," katanya.

Berdasarkan data APPBI, tingkat okupansi pusat perbelanjaan secara nasional saat ini berada pada kisaran 85-90 persen.

Namun, angka tersebut masih belum sepenuhnya memenuhi harapan industri yang menargetkan pemulihan ke level sebelum pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, tingkat okupansi pusat perbelanjaan umumnya berada di atas 90 persen.

Baca juga: Tren Penjualan Rumah Second Mulai Naik, Bagaimana Prospek Pasar Properti di Indonesia?

"Kalau saya bicara seluruh Indonesia, rata-rata sekarang berkisar sekitar 85 persen sampai 90 persen. Target pascapandemi Covid sebenarnya kita berharap sejak 2024 dan 2025 bisa naik terus, sehingga kembali ke kondisi sebelum Covid yang notabene di atas 90 persen. Tetapi ini memang agak sulit tercapai, meskipun relatif stabil," ungkap Alphonzus.

 

 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas