AI Jadi Motor Transformasi Bisnis, Data dan Talenta Dinilai Faktor Penentu
Remus Lim, mengatakan banyak perusahaan saat ini masih terjebak pada perdebatan mengenai model AI yang digunakan.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Pemanfaatan AI semakin menjadi fokus transformasi digital di Indonesia
- Pelaku industri menilai keberhasilan AI ditentukan oleh kesiapan data, proses bisnis, dan talenta, bukan sekadar teknologi
- Sektor perbankan seperti BCA dan BNI mengaku AI telah meningkatkan efisiensi operasional serta mendukung pertumbuhan bisnis secara signifikan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus menjadi fokus utama transformasi digital di berbagai sektor industri di Indonesia.
Namun, para pelaku industri menilai keberhasilan implementasi AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau besarnya model yang digunakan, melainkan oleh kesiapan data, proses bisnis, dan sumber daya manusia yang mendukungnya.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi yang menghadirkan sejumlah pemimpin industri teknologi dan perbankan, yang berbagi pengalaman mengenai perjalanan implementasi AI di organisasi masing-masing saat EVOLVE Forum Jakarta Media Roundtable di Jakarta belum lama ini.
Baca juga: Apple Resmi Perkenalkan Siri AI, Asisten Pintar Generasi Baru
Dalam kesempatan tersebut, Remus Lim, Senior Vice President, Asia Pacific and Japan, Cloudera; Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera; dan Rudy Tanuwidjaja, Senior Sales Engineer, Cloudera Indonesia, hadir sebagai pembicara.
Acara ini juga menghadirkan Lily Wongso, EVP Enterprise IT & Data Management, BCA, serta Handika Hakim, SVP AI & Data Analytics Division, BNI, yang berbagi perspektif mengenai penerapan solusi Cloudera di sektor perbankan Indonesia.
Remus Lim, mengatakan banyak perusahaan saat ini masih terjebak pada perdebatan mengenai model AI yang digunakan. Padahal, menurutnya, ukuran keberhasilan AI seharusnya diukur dari dampak nyata yang dihasilkan terhadap bisnis.
"Pada akhirnya, AI bukan tentang ukuran model yang digunakan, tetapi tentang kemampuan teknologi tersebut untuk mendorong hasil bisnis yang nyata," ujar Remus.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan implementasi AI memerlukan lebih dari sekadar investasi teknologi.
Organisasi harus memiliki kepemimpinan yang kuat, kesiapan budaya kerja, serta perubahan proses bisnis agar teknologi dapat diadopsi secara efektif.
Selain itu, fondasi data yang kuat menjadi faktor krusial. Menurut Remus, banyak proyek AI yang berhenti pada tahap uji coba atau pilot project karena perusahaan belum memiliki tata kelola data yang memadai.
"Tanpa kesiapan data yang memadai, banyak inisiatif AI akan sulit berkembang dari tahap pilot menjadi implementasi yang memberikan nilai bisnis," katanya.
Baca juga: AMSI Jakarta Dorong Perlindungan Hak Cipta Jurnalistik dan Penguatan Kolaborasi Media di Era AI
Indonesia Dinilai Maju dalam Adopsi AI
Pandangan serupa disampaikan Country Manager Indonesia Cloudera, Sherlie Karnidta.
Ia menilai tingkat adopsi AI di Indonesia saat ini sudah cukup baik dan bahkan berada di depan sejumlah negara lain di kawasan.
Meski demikian, masih terdapat tantangan mendasar yang harus diselesaikan agar pemanfaatan AI dapat berkembang secara berkelanjutan.