Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

IHSG Diprediksi Melemah Dulu Awal Pekan, lalu Menguat ke 5.100

Hans menjelaskan, pergerakan IHSG akan sangat di pengaruhi pasar global dan regional dengan support di level 3.918 hingga 4.393.

IHSG Diprediksi Melemah Dulu Awal Pekan, lalu Menguat ke 5.100
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (5/3/2020). Hanya bertahan di zona hijau sesaat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali turun 17 poin atau 0,31% ke 5.632 pasca adanya 2 WNI yang terkena virus Covid-19. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang konsolidasi melemah terkoreksi di awal-awal pekan dan kembali menguat di akhir pekan.

Hans menjelaskan, pergerakan IHSG akan sangat di pengaruhi pasar global dan regional dengan support di level 3.918 hingga 4.393.

"Sementara resistance di level 4.848 sampai 5.112. Cenderung BOW (buy on weakness) atau beli ketika terjadi pelemahan di pasar," ujarnya di Jakarta, Sabtu (4/4/2020).

Baca: Ditemukan Tak Sadarkan Diri & Positif Narkoba, Ini Sosok Wheesung, Dulu Pernah Kena Skandal Serius

Menurutnya, pasar saham Indonesia sempat menguat merepon paket stimulus fiskal senilai Rp 405,1 triliun yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melawan dampak negatif penyebaran pandemi corona atau Covid-19 terhadap perekonomian.

Tetapi, perkiraan terburuk dampak Covid-19 terhadap perekonomian juga menekan pergerakan pasar yakni nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dari Rp 17.500 sampai Rp 20.000.

Baca: Kondisi Terkini Bupati Karawang Cellica Setelah 10 Hari Diisolasi Karena Positif Corona

Kemudian, inflasi 3,9 persen sampai 5,1 persen, harga minyak 38 sampai 31 dolar AS per barel dan perumbuhan ekonomi 2,3 persen sampai minus 0,4 persen.

Namun, Hans menambahkan, angka prediksi yang jelek akan menjadi kekuatan dan sentimen positif ketika data realisasi lebih baik dari perkiraan.

Disisi lain, kenaikan jumlah kasus Covid-19 yang cenderung lebih lambat di bandingkan negara lain dikhawatirkan akibat masih rendahnya jumlah test yang dilakukan.

"Kenaikan jumlah kasus ketika test di perbanyak menjadi indikasi bagus penangan kasus Covid 19," pungkasnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Yanuar Riezqi Yovanda
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas