Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Aspaki Ungkap Ketidaksiapan Industri Alat Kesehatan Dalam Negeri di Tengah Pandemi Corona

ASPAKI mengungkapkan ketidaksiapan dalam penyediaan alat kesehat (alkes) untuk kebutuhan dalam negeri di tengah pandemi Covid-19.

Aspaki Ungkap Ketidaksiapan Industri Alat Kesehatan Dalam Negeri di Tengah Pandemi Corona
Tribunnews/JEPRIMA
Warga membeli masker di salah satu toko alat kesehatan di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, Selasa (3/3/2020). Isu merebaknya wabah Corona di Indonesia menyebabkan penjualan masker di Pasar Pramuka meningkat tajam meski dalam sepekan harga melambung tinggi. Harga masker di pasar ini dibanderol Rp65.000-Rp1,5 juta per boks, naik tajam dari harga sebelum isu Corona menyebar, yakni Rp20.000 hingga Rp150 ribu per boks. Harga masker yang naik tajam adalah jenis N-95 karena kualitas bagus dan stok di pemasok semakin langka. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) mengungkapkan ketidaksiapan dalam penyediaan alat kesehat (alkes) untuk kebutuhan dalam negeri di tengah pandemi Covid-19.

Bahkan sebelum merebaknya krisis akibat wabah, produksi alat kesehatan dalam negeri terintimidasi produk impor yang berasal dari China.

Dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Rabu (8/4/2020), Ketua Aspaki, Ade Tarya Hidayat mengatakan pasar alat kesehatan dalam negeri hanya berkisar 10 persen.

Baca: Politikus Demokrat Usul Agar Kemenag Keluarkan Aturan Soal Perluasan Penerima Zakat Fitrah

Diperkirakan sebelum merebaknya wabah virus corona, 90 persen produk alat kesehatan dalam negeri didominasi barang impor.

"Untuk alat sederhana seperti masker dan alat pelindung diri (APD) sebelum krisis sebesar 30 persen produksi dalam negeri, sedangkan 70 persen berasal dari impor, itupun terintimidasi produk dari China," ujar Ade kepada Komisi IX DPR RI.

Ketua Aspaki mengeluhkan bahan baku yang melonjak tinggi saat krisis ini.

Baca: Selamat Jalan Glenn Fredly Musisi Pengagum Munir, Pendukung Gerakan HAM

Bahan baku yang semula bekisar 2,6 dollar per kilogram, menjadi sekitar 80 dollar per kilogram, dengan jumlah yang sangat terbatas.

Ade mengungkapkan, negara produsen seperti China dan Taiwan saat ini mengutamakan penggunaan bahan baku untuk kebutuhan dalam negeri lebih dulu

"Mereka tidak melakukan ekspor. Prinsipnya mereka saat ini domestik first, baru ekspor," ujar Ade.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Adi Suhendi
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas