Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Pak Ogah di Tengah Corona, Makan Daging Ayam Nanti Dulu Deh

Kantong celana hingga saku baju Sahroni tidak lagi penuh berisi uang koin maupun kertas pecahan Rp 2 ribu dan Rp 5 ribu hasil pemberian dari para

Pak Ogah di Tengah Corona, Makan Daging Ayam Nanti Dulu Deh
Tribunnews.com/Theresia Felisiani
Di tengah ganas dan mewabahnya virus corona, Syahroni (40) masih semangat melakoni pekerjanya sebagai pak ogah atau "polisi cepek"? di Kalimalang demi menghidupi istri dan dua anaknya. 

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - Keseharian pak ogah atau "polisi cepek"‎ mencari rupiah selama wabah virus corona membuat prihatin. Mereka mengaku lebih takut kelaparan dibandingkan terjangkit virus ganas tersebut.

Sahroni (40) misalnya, ‎mau tidak mau, dia tetap harus keluar rumah berbekal masker dan tongkat seadanya menjadi "palang manusia" di Kalimalang, perbatasan Bekasi dengan Jakarta, membantu mengatur keluar masuk kendaraan di persimpangan jalan.

Baca: Rico Marbun: Rizal Ramli Tokoh Pluralis, Terbuka Terhadap Semua Golongan

Semenjak pemerintah mengeluarkan kebijakan belajar, bekerja, beribadah dari rumah dan membatasi aktivitas sosial demi memutus rantai penyebaran virus corona, bersamaan dengan itu pula pendapatan Sahroni kian sedikit.

‎Kantong celana hingga saku baju Sahroni tidak lagi penuh berisi uang koin maupun kertas pecahan Rp 2 ribu dan Rp 5 ribu hasil pemberian dari para pengendara.

"Hidup makin susah, dulu sehari saya bisa dapat Rp 100 ribu. Sekarang semenjak ramai corona paling sehari dapat Rp 30-40 ribu. Itu sudah paling banyak, ya disyukuri saja yang penting istri sama dua anak saya bisa makan," ucap Sahroni saat ditemui di Kalimalang, Sabtu (25/4/2020).

Baca: Bocah di Temanggung Positif Corona, Tertular Ayahnya yang Mengikuti Ijtima Ulama Gowa

Demi bisa memberikan uang dapur untuk istri dan uang jajan untuk dua anaknya, Sahroni ‎harus mencari sampingan lain baik menjadi tukang ojek, kuli panggul pasar maupun lainnya.

Bagi Sahroni, pekerjaan apapun bakal dilakoni asalkan halal dan bisa menafkahi keluarga tercintanya jangan sampai dilanda kelaparan.

Baca: 5 Resep Puding Nikmat untuk Menu Berbuka Puasa

"‎Karena pendapat turun drastis lebih dari separo, ya saya cari sampingan lain seperti ngojek atau kuli barang di pasar, yang penting halal," tuturnya.

"Ya siapa sih yang gak takut sama virus.‎ Keadaan seperti ini, mau virusnya bahaya dan ganas. Yang penting saya dan keluarga jangan sampai kelaparan," kata Sahroni lagi.

Selama wabah corona, pria asli Bekasi ini mengaku sama sekali belum mendapatkan bantuan baik sembako maupun dana bansos dari pemerintah pusat maupun pemda.

Alhasil Sahroni dan istri harus pintar-pintar mengelola keuangan untuk mengolah makanan setiap harinya. Bagi keluarga mereka, yang terpenting ada tempe dan tahu.

"Makanan ya paling sayur, tempe dan tahu. Itu yang utama, kalau ayam apalagi daging nanti dulu deh belum bisa. Habis corona selesai mungkin baru bisa makan ayam lagi. Yah kita sabarin aja," imbuhnya.

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas