Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Doni Monardo: Sangat Mungkin Kita Hidup Selamanya dengan Covid-19 

Oleh karenanya ada kemungkinan masyarakat di dunia akan hidup selamanya dengan Covid-19.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Doni Monardo: Sangat Mungkin Kita Hidup Selamanya dengan Covid-19 
pixabay
Ilustrasi penelitian. Sebuah kabar menyebut ilmuwan Indonesia akhirnya berhasil memetakan virus covid-19. 

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Doni Monardo mengatakan bahwa hingga hari ini belum ada lembaga yang bisa memastikan kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

Termasuk kapan vaksin virus Corona tersebut ditemukan.

Oleh karenanya ada kemungkinan masyarakat di dunia akan hidup selamanya dengan Covid-19.

Baca: Dinkes DKI Klaim Tak Ada RS di Jakarta yang Perjualbelikan Surat Bebas Corona

"Sehingga sangat mungkin kita akan selamanya hidup  dengan Covid-19, " ujar Doni usai rapat terbatas dengan presiden, Senin, (18/5/2020).

Doni mengatakan Gugus tugas telah memberikan sejumlah masukan  mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengahadapi Pandemi yang belum diketahui kapan akan selesainya tersebut.

Baca: Viral di Medsos, Bayi Penyu yang Jelajahi Pesisir Pantai saat Lockdown

Diantaranya pengurangan atau pelonggaran PSBB yang harus dikaji secara matang. Salah satunya mengenai perlunya survei pra kondisi sebelum relaksasi PSBB

"Kemudian juga waktu yang tepat kapan harus dimulai dilihat dari data-data lapangan yang tadi telah bapak presiden perintahkan untuk mengkaji daerah mana yang boleh dibuka," tuturnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Pembukaan atau relaksasi PSBB tersebut menurut Doni harus berdasarkan data data lapangan serta pertimbanga kajian multi aspek.

Sehingga keputusan yang diambil nantinya tidak keliru atau bahkan memperparah penyebaran Covid-19

"Tentu adalah daerah-daerah yang memiliki kriteria hijau. Dan kalau kita lihat dari 34 provinsi di Indonesia, ada yang memang tingkata kasusnya masih relatif rendah. Tapi namun demikian tetap kajian secara data danjuga riset memiliki peran yang penting . Sehingga nantinya mana daerah yang dibuka, mana yang diberikan pengurangan pembatasan tidak keliru," pungkasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas