Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Polda Metro Jaya: Ganjil Genap Berlaku Setelah PSBB Jakarta Berakhir

Sambodo menyebut pihaknya belum mengetahui secara pasti waktu pencabutan PSBB di Jakarta.

Polda Metro Jaya: Ganjil Genap Berlaku Setelah PSBB Jakarta Berakhir
Tribunnews/Jeprima
Petugas kepolisian menilang mobil berplat nomor ganjil saat memasuki Jalan DI Panjaitan di Jakarta Timur, Selasa (10/9/2019). Petugas kepolisian mulai memberlakukan penindakan berupa tilang terhadap pengendara mobil yang melanggar di kawasan perluasan sistem ganjil genap. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo mengatakan peniadaan kebijakan ganjil genap akan berakhir setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta dicabut oleh pemerintah provinsi.

"Ganjil genap nanti kembali berlaku setelah PSBB berakhir," kata Sambodo kepada wartawan, Selasa (2/6/2020).

Sambodo menyebut pihaknya belum mengetahui secara pasti waktu pencabutan PSBB di Jakarta.

Namun pada 4 Juni 2020 nanti, pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas perhubungan DKI Jakarta untuk membahas masalah tersebut.

Baca: Mulai 1 Juni Kereta Api Luar Biasa dari Surabaya Beroperasi Setiap Tanggal Ganjil

"Nanti setelah 4 Juni akan kami evaluasi dan koordinasi dengan rekan-rekan Dishub DKI. Kami observasi lagi terakhir karena fluktuatif nih kadang-kadang naik, kadang-kadang turun (volume lalu lintas, Red)," ungkapnya.

Baca: Kebijakan Ganjil Genap di DKI Jakarta Bakal Diberlakukan Situasional

Pembahasan itu, kata dia, untuk mengetahui apakah diperlukan lagi pemberlakuan kebijakan ganjil genap dalam waktu dekat. Sebab, mereka masih mengacu data lalu lintas yang masih cenderung fluktuatif.

"Minggu kemarin dibanding Minggu kemarinnya lagi turun, tapi dibanding 2-3 Minggu lalu naik gitu. Jadi masih fluktuatif. Apa nanti pakai gage apa nggak masih kita observasi. Karena kan mengurai kemacetan tidak hanya menggunakan gage, tapi bisa juga dengan management lain misalnya rekayasa, buka tutup, alih arus," jelas dia.

Data terakhir, Sambodo mengatakan peningkatan volume kendaraan di Ibu kota hanya mencapai 4 persen. Angka tersebut dinilai masih belum terlalu signifikan.

"Kalau peningkatan sih kemarin kan masuk ke dalam Jakarta tidak terlalu banyak. Sedangkan kalau peningkatan dalam kota naiknya nggak terlalu signifikan hanya sekitar 4 persen," ungkapnya.

"Jadi kalau butuhkan gage apa nggak kita evaluasi dulu karena tidak semerta-merta gage bisa diterapkan karena volumenya butuh nggak, kalau volume nggak butuh ya kita nggak pakai gage," tutupnya.

Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas