Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pernyataan WHO Mengenai Pandemi Covid-19 Sering Berubah-ubah

Salah satunya menurut Doni mengenai Orang Tanpa Gejala (OTG) yang kemungkinannya menularkan Covid-19.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Pernyataan WHO Mengenai Pandemi Covid-19 Sering Berubah-ubah
ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo (kanan), Menko Polhukam Mahfud MD (kiri) dan Menteri LHK Siti Nurbaya menyampaikan konferensi pers seusai rapat terbatas di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (23/6/2020). Pemerintah telah mengantisipasi potensi ledakan kebakaran hutan dan lahan yang biasa terjadi pada Agustus sampai September dan akan melakukan rekayasa hujan melalui teknologi modifikasi cuaca. TRIBUNNEWS/ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/POOL 

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan bahwa pernyataan Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) mengenai Covid-19 selalu berubah-ubah.

Salah satunya menurut Doni mengenai Orang Tanpa Gejala (OTG) yang kemungkinannya menularkan Covid-19

"WHO telah merevisi pernyataan mereka. Pernyataan WHO itu sering berubah-ubah terus. Pernyataan WHO itu sering berubah-ubah terus," kata Doni di Istana Kepresiden, Jakarta, Senin, (29/6/2020).

Baca: WHO Sebut Kasus Covid-19 Akan Segera Capai Angka 10 Juta Infeksi

Menurut Jenderal Bintang Tiga itu, di Indonesia 70-90 persen kasus positif merupakan OTG.

Mereka tidak menunjukkan gejala apapun namun sangat beresiko menularkan penyakit. 

"Mereka (OTG) ini tidak apa-apa. Menjadi sangat berisiko ketika dia menyentuh orang tua dan orang dengan penyakit komorbid," kata Doni.

Orang tanpa gejala tersebut menurut Doni harus diisolasi. Bila tidak, akan menjadi silent killer.

Rekomendasi Untuk Anda

Mantan Danjen Kopassus itu mengatakan pernyataan WHO yang menyatakan OTG kecil kemungkinannya menularkan virus sempat dibahas oleh pemerintah, dan pihaknya sempat bingung dengan pernyataan tersebut.

"Kalau dia berkeliaran maka dia akan menjadi silent killer. Itu yang dari awal selalu kita sampaikan. OTG itu justru yang paling bahaya. Oleh WHO pernah dimuat mungkin dua minggu yang lalu. Kita sudah diskusi, apa nggak salah nih WHO. Ternyata bener diralat lagi sama WHO," pungkasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas