Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Guru dan Orang Tua Tidak Dapat Menyeragamkan Kemampuan Anak-anak

Dirinya meminta para guru dan orang tua untuk tidak menyeragamkan kemampuan para anak.

Guru dan Orang Tua Tidak Dapat Menyeragamkan Kemampuan Anak-anak
YouTube metrotvnews
Psikolog Tika Bisono mengungkapkan mengapa kemungkinan mengapa sosok remaja NF bisa seperti mati rasa dan tidak ada empati hingga tega membunuh APA. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Psikolog Tika Bisono menilai setiap anak memiliki keunikan masing-masing yang tidak dapat disamaratakan antara satu dengan yang lain.

Dirinya meminta para guru dan orang tua untuk tidak menyeragamkan kemampuan para anak.

Hal tersebut diungkapkan oleh Tika pada sesi pertama acara Kemah Karakter Virtual Anak Indonesia yang digelar oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Anak itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing enggak bisa disamakan. Bapak ibu guru di kelas enggak bisa diseragamkan. Dari absensi A sampai Z beda-beda," ujar Tika.

Baca: Cara Memahamkan Konsep New Normal pada Anak di Usia PAUD hingga SD

Dirinya juga menyebut bahwa orang tua adalah sosok yang ditiru oleh anak-anak. Sehingga penanaman yang positif akan ditiru oleh anak, begitu juga sebaliknya.

"Jadi kalau anak diperlakukan positif dia akan menjadi positif. Anak diperlakukan negatif dia akan jadi negatif, dan anak adalah peniru ulung," kata Tika.

Tika menjadi pembicara pada sesi pertama hari kedua acara Kemah Karakter Virtual Anak Indonesia. Sesi pertama ini ditujukan untuk jenjang PAUD/PAUDLB dan SD/SDLB.

Selain Tika, pada sesi pertama diisi oleh penampilan menyanyi Putri Ariyani dan dongeng dari Ariyo Zidni.

Pada sesi kedua diisi oleh psikolog klinis Ratih Ibrahim, Chiki Fawzi, dan penampilan pantomim oleh Septian Dwi Cahyo. Sesi kedua ditujukan untuk SMP/SMPLB, SMA/SMALB, dan SMK/SMKLB.

Pada pemaparannya Ratih memaparkan tentang cara mewujudkan impian untuk anak Indonesia. Dirinya mengajak anak-anak untuk membuat tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai.

"Impian tadi adalah tujuan yang sangat ingin kita wujudkan. Buat tujuan saya apa, lalu buat timelinenya," tutur Ratih.

Kegiatan yang bertajuk "Anak Gembira, Keluarga Hebat, Indonesia Maju" ini diikuti sebanyak 2.982 peserta yang berasal dari 34 provinsi. Peserta terbanyak berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan Sumatera Utara.

Acara ini diadakan sejalan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional pada 29 Juni dan Hari Anak Nasional pada 23 Juli. Kegiatan virtual ini dilaksanakan dari 6-9 Juli 2020. 

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas