Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kalung Eucalyptus Bukan untuk Membasmi Covid-19 Tapi Menghambat Penyebaran Virus Corona

Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry menegaskan tidak pernah mengklaim produk bahan alam ini bisa membasmi Covid-19.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Kalung Eucalyptus Bukan untuk Membasmi Covid-19 Tapi Menghambat Penyebaran Virus Corona
DOK. Humas Kementerian Pertanian via Kompas.com
Kementan akan memproduksi kalung dari tanaman eucalyptus yang diklaim mampu membunuh virus. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry menegaskan presepsi masyarakat bahwa tumbuhan eucalyptus dapat membasmi virus Covid-19 tidak tepat.

Dia menjelaskan eucalyptus yang dikembangkan menjadi produk di antaranya kalung aromatherapy, minyak roll on, balsam, oil diffuser, dan inhaler sebagian sudah mendapat izin BPOM.

"Kalung aromatherapy, inhaler, dan roll on yang sudah mendapat izin edar BPOM. Ini memang bukan untuk antivirus karena prosesnya panjang, izin ini jamu," kata Fadjry dalam konferensi pers virtual, Senin (6/7/2020).

Dia kemudian menegaskan tidak pernah mengklaim produk bahan alam ini bisa membasmi Covid-19.

"Kita anggap ini berpotensi terkait penghambat penyebaran virus corona. Kita menerima saran dan masukan. Kita sudah menyampaikan juga tidak over klaim," tuturnya.

Menurutnya untuk dinyatakan sebagai produk yang bisa mengatasi virus Covid-19 memerlukan waktu yang tidak sebentar, harus masuk ke tahap uji klinis.

Baca: Legislator PKS: Sebelum Uji Publik, Seharusnya Tak Ada Produksi Massal Kalung Anti Corona

Baca: Polemik Kalung Antivirus Corona, Menkes Terawan, Ikatan Dokter, hingga DPR Beri Tanggapan

"Bohong sekali kalau kita ini bilang sudah uji klinis karena butuh waktu sampai 18 bulan, bisa 12 bulan itu pun banyak sekali mekanismenya," ucap dia.

Rekomendasi Untuk Anda

Fadjry menerangkan bahwa Balitbang Pertanian sudah bepuluh-puluhan tahun melakukan pengembangan dari komoditi sejenis eucalyptus.

Hasil penelitian Balitbang Pertanian juga sudah terbukti berhasil untuk vaksin flu burung.

"Tahun 2006 kita sudah menghasilkan vaksin flu burung," terangnya.

Menurut Fadjry, minyak atsiri aucalyptus citridora eucalyptus dikenal mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, kemudian menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut.

Dalam skala laboratorium punya potensi menekan perkembangan virus, ini akan melalui tahap uji coba hewan dan seterusnya.

Ia memastikan, menyiapkan tim untuk pengembangan riset produk eucalyptus dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI).

Ditegaskan dalam izinnya, BPOM juga tidak menyebut produk eucalyptus bisa menghilangkan Covid-19.

"Kita akan segera bikin timnya, MoU juga kita siapkan," kata Fadjry.

Baca: Soal Kalung Antivirus Corona, Menteri Kesehatan Terawan: Kalau Membuat Psikologis Percaya, Imun Naik

Baca: Sherina Komentari Kalung Antivirus Corona: Semoga Nyawa Tidak Melayang karena Takhayul Diilmiahkan

Fadjry menekankan produk eucalyptus ini sudah melalui uji laboratorium dan hasilnya berpotensi membasmi corona model bukan Covid-19.

"Ini kan aksesoris kesehatan, kita bisa hirup, dan secara laboratorium bisa membunuh virus corona di sekitar kita," terangnya.

"Kita tidak overclaim, memang izin dari BPOM tidak menyebut antivirus, karena memang harus melalui tahapan. Klaim produk kita ini memang sebatas apa yang menjadi izin dari BPOM, tapi secara laboratorium ini berpotensi untuk membunuh virus corona," terang Fadjry lagi.

Di kesempatan yang sama, Dekan FK UI Prof Ari Fahrial Syam mengapresiasi upaya Balitbangtan memanfaatkan hasil alam eucalyptus sebagai produk melawan corona.

Dia memandang harapan masyarakat begitu besar ketika disampaikan ada bahan alam yang bisa mengatasi pandemi.

"Saya rasa ini kan sama untuk mengatasi penyakit sejenis corona yang digunakan sehari-hari dari bahan minyak kayu putih. Kami rasa perlu atau siap untuk bekerja sama melanjutkan riset ini," kata Prof Ari.

Prof Ari menambahkan nantinya eucalyptus akan dikembangkan di Indonesian Medical Education Research Institute (IMERI-FK UI).

"Kita akan melakukan kegiatan menemukan vaksin seperti identifikasi virus. Saya rasa kita semua berharap Indonesia punya bahan alam yang terbukti menjadi khasiat dari virus," kata dia.

Baca: Manfaat Eucalyptus, Bahan Pokok Kalung Antivirus Corona: Redakan Batuk hingga Cegah Gigitan Nyamuk

Baca: 9 Manfaat Eucalyptus, Bahan Pokok Kalung Antivirus Corona: Redakan Batuk - Kontrol Gula Darah

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mengaku khawatir temuan tersebut dapat menjadi bahan tertawaan dunia.

Menurutnya hal itu bisa terjadi apabila uji klinis dan uji publik belum dilakukan oleh Kementan, namun kalung tersebut sudah diproduksi secara massal.

"Jika uji klinis dan uji publik oleh para pakar belum dilakukan dan ada klaim sepihak, saya khawatir kita jadi bahan tertawaan publik dunia," ujar Mardani.

Mardani menegaskan usaha yang dilakukan Kementan layak diapresiasi. Namun salah satu kekuatan sains itu ada pada keandalan metodologinya.

Muhadjir Effendy tanggapi klaim kalung antivirus corona yang diluncurkan Kementerian Pertanian
Muhadjir Effendy tanggapi klaim kalung antivirus corona yang diluncurkan Kementerian Pertanian (Tribunnews/Taufik Ismail, Dok. Humas Kementan)

Oleh karenanya, dia mengusulkan agar Balitbangtan untuk berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait sebelum memproduksi massal kalung anti corona itu.

"Bagus sekali jika Balitbangtan sebelum merelease (kalung anti corona) berkoordinasi dengan Balitbangkes dan lembaga rujukan, serta akademisi seperti Eijkman dan beberapa kampus yang sedang melakukan penelitian topik yang sama," kata dia.

"Karena mengambil proses untuk mendapatkan antivirus perlu melalui prosedur dan uji kelayakan yang panjang dengan metode dan kontrol yang ketat," imbuh Mardani.

Anggota Komisi II DPR RI tersebut menilai jika nantinya kalung anti corona itu telah teruji secara ilmiah dan terbukti keampuhannya, maka dapat menjadi andalan Indonesia di pasar ekspor.

"Jika ini proven atau terbukti secara ilmiah menurunkan kasus Covid-19, tentu bisa jadi produk andalan kita di pasar ekspor," ia menegaskan. (tribun network/mam/nas/dit)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas