Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Menko PMK Pastikan Harga Rapid Test Buatan Dalam Negeri Lebih Murah Dibanding Produk Impor

"Saya yakin produk dalam negeri nanti rapid test lebih murah, mampu bersaing," kata Muhadjir

Menko PMK Pastikan Harga Rapid Test Buatan Dalam Negeri Lebih Murah Dibanding Produk Impor
Surya/Ahmad Zaimul Haq
ILUSTRASI - Warga RSS TNI AL Wonosari, Ujung, Kota Surabaya, Jawa Timur, mengikuti rapid tes pada Bakti Sosial Penanggulangan Bencana Non Alam Penyebaran Wabah Covid-19, Rabu (8/7/2020). Bakti sosial itu untuk memutus mata rantai penularan virus corona atau Covid-19 di Indonesia yang masih berkembang, khususnya di wilayah Kota Surabaya. Dalam kegiatan tersebut didistribusikan 1.000 paket sembako, rapid test untuk 100 KK, pembagian 898 alat cuci tangan, dan 6 unit alat penyemprot disinfektan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga turut membantu dengan menyerahkan sejumlah bantuan seperti pendeteksi sebanyak 5 buah, 15.000 masker, 500 pampers, 26 liter cairan disinfektan, 100 baju hazmat. Surya/Ahmad Zaimul Haq 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy memastikan produk rapid test terkait virus corona atau Covid-19 buatan dalam negeri akan lebih murah dibanding dengan produk impor.

Meski begitu, dia memastikan kualitas produk rapid test bernama RI-GHA Covid-19 tetap bersaing dengan produk impor.

Baca: Kasus Covid-19 Melonjak Hingga 2.657, Jokowi: Ini Lampu Merah Lagi 

"Saya yakin produk dalam negeri nanti rapid test lebih murah, mampu bersaing dan siap-siap, kalau ada produk luar yang banting harga, kita juga siap-siap banting harga," ujar Muhadjir di Kantor Kemenko PMK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (9/7/2020).

Kementerian Kesehatan telah menetapkan harga maksimal sebesar Rp150 ribu untuk alat rapid test.

Namun, Muhadjir mengusulkan agar harganya diturunkan menjadi Rp75 ribu.

Langkah ini dilakukan agar alat rapid test dalam negeri mampu bersaing dengan produk luar negeri.

"Maksimum Rp150 ribu harga kita upayakan kita tekan semakin rendah, saya sudah sampaikan kepada kepala BPPT jadi Rp75 ribu. Ini kan bisa jadi patokan riil di lapangan, kalau ada produk yang harganya di atas ini, kan tidak laku," kata Muhadjir.

Baca: Ada 1.262 Kasus Positif Covid-19, Secapa TNI AD Bandung Diawasi Ketat dan Dilakukan Karantina

Seperti diketahui, RI-GHA Covid-19 merupakan alat rapid test yang dikembangkan bersama oleh Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Bandung, Universitas Mataram, dan PT Hepatika Mataram.

Alat rapid test tersebut sudah telah teruji sensitivitas (98 persen) dan spesifitasnya (96 persen) melalui uji laboratorium terhadap orang Indonesia. 
 

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas