Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Anis Matta: Putin Berani Ubah Konstitusi Rusia untuk Atasi Krisis Global

Usulan perubahan tersebut diterima oleh sebagian besar rakyat Rusia dengan dukungan mencapai 73 persen.

Anis Matta: Putin Berani Ubah Konstitusi Rusia untuk Atasi Krisis Global
ISTIMEWA
Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan referendum untuk mengubah konstitusi negaranya 25 Juni hingga 1 Juli 2020 lalu untuk mengatasi krisis berlarut dan global.

Usulan perubahan tersebut diterima oleh sebagian besar rakyat Rusia dengan dukungan mencapai 73 persen.

Pengamat geopolitik internasional Muhammad Anis Matta mengatakan, referendum Rusia ini harus dilihat sebagai respons strategis terhadap tantangan jangka panjang Rusia.

"Negara sebesar Rusia, yang kini terlibat dalam ketegangan global di berbagai hotspot, memerlukan figur pemimpin yang kuat. Ancaman keutuhan wilayah, perang dagang dan sabotase ekonomi dan infiltrasi budaya. Diamati dengan cermat betul oleh Putin," kata Anis Matta kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (11/7/2020).

Baca: Berkuasa hingga 2036, Presiden Rusia Vladimir Putin Bicara Amandemen Konstitusi

Menurut Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia ini, para ahli strategi dunia menyebut juga bahwa perang dagang kini adalah perang sebenarnya yang tak kalah mematikan atau memperlemah satu negara yang dapat berujung pada merosotnya legitimasi pemerintahan yang sah, dan akhirnya kalah pada pemilu atau oleh pemberontakan.

Sebab, perang terbuka saat ini terlalu mahal secara finansial, sosial dan reputasi internasional.

Sehingga perang dunia sekarang bergerak ke perang hibrida (hybrid war) yang memadukan antara perang konvensional (militer) dengan paramiliter (orang terlatih). Dimana orang terlatih ini bukan bagian dari 'militer resmi' negara tertentu.

Mereka melakukan juga perang yang tidak teratur dengan ancaman cyber warfare (perang cyber di internet), senjata nuklir, senjata biologi dan kimia, dan perang informasi.

"Jadi Putin memahami hal ini dengan betul dan menyiapkan bangsa Rusia menghadapi tantangan eksistensial di masa yang akan datang," kata Anis.

Dari perspektif geopolitik, lanjut Anis, Rusia adalah pengakuan diri sebagai penerus Uni Soviet, baik dalam hubungan perjanjian, organisasi maupun kepemilikan aset internasional.

Halaman
12
Penulis: chaerul umam
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas