Tribun

Virus Corona

Jakarta PSBB Kembali, Jangan Sekedar 'Merumahkan' Orang Tanpa Efek Jera bagi Pelanggarnya

PSBB total kedua ini jangan sekedar 'merumahkan' orang, tapi tanpa penerapan disiplin dan protokol kesehatan.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Johnson Simanjuntak
Jakarta PSBB Kembali, Jangan Sekedar 'Merumahkan' Orang Tanpa Efek Jera bagi Pelanggarnya
Tangkap layar channel YouTube PEMPROV DKI JAKARTA
Jakarta Darurat Wabah Covid-19, Anies Tarik Rem dan Terapkan PSBB Seperti Awal Pandemi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah mengumumkan akan kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Ibukota menyusul pertambahan kasus positif Covid-19 yang terus meroket.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno meminta kebijakan PSBB kali ini harus diikuti protokol kesehatan yang ketat, disiplin dan penegakan hukum yang lebih tegas dari Pemprov DKI Jakarta.

"PSBB total kedua ini jangan sekedar 'merumahkan' orang, tapi tanpa penerapan disiplin dan protokol kesehatan. Harus ada pengawasan yang ketat dan efek jera yang memberatkan bagi siapapun pelanggarnya," ujar Eddy, kepada Tribunnews.com, Jumat (11/9/2020).

Eddy mengatakan jika Pemprov DKI Jakarta gagal mendisiplinkan masyarakat maka pembukaan ekonomi ke depan berpotensi melahirkan gelombang ketiga. Atau dengan kata lain, penyebaran Covid-19 ini tak akan kunjung selesai.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI tersebut mengaku menyambut positif PSBB total yang diterapkan Anies. Karena Eddy melihat kebijakan ini sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19 yang telah menjadi beban bagi pelayanan medis di Jakarta.

Baca: Satgas Covid-19 Sebut Mobilitas Penduduk karena PSBB Transisi DKI Berefek di Pulau Jawa

"Kami mendukung kebijakan PSBB total ini karena kapasitas kamar rumah sakit maupun ICU yang terus menipis. Kesehatan dan keselamatan warga, termasuk tenaga medis kita harus menjadi prioritas," kata dia.

Selain itu, Eddy menyinggung bahwa PSBB total kedua di Jakarta ini membuktikan bahwa aktivitas ekonomi yang mengabaikan protokol kesehatan akan berakibat penghentian kegiatan ekonomi secara terpaksa.

"Sampai dengan ditemukannya vaksin Covid, kunci pemulihan ekonomi saat ini adalah ketaatan dan kedisiplinan masyarakat dalam mentaati protokol kesehatan," jelasnya.

"Kalau tidak ada perubahan pada perilaku masyarakat untuk memakai masker, menjaga jarak dan hidup bersih, maka pergerakan ekonomi pun tak kunjung membaik," tandas Eddy.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas