Tribun

Virus Corona

Satgas Covid-19 Masih Kaji Besaran Harga Test Swab Yang Terjangkau Masyarakat

Hal itu disampaikan Wiku saat keterangan pers Perkembangan Penanganan Covid-19 melalui kanal YouTube Sekretariat

Satgas Covid-19 Masih Kaji Besaran Harga Test Swab Yang Terjangkau Masyarakat
Surya/Ahmad Zaimul Haq
Peserta seleksi kompetisi bidang (SKB) bagi CPNS Pemkot Surabaya dengan hasil rapid tes reaktif menjalani tes usap (swab) usai mengikuti tes di GOR Pancasila, Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (22/9/2020). Seleksi itu menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, mulai dari mengenakan masker, pelindung wajah, dan sarung tangan serta jarak antar peserta tes, termasuk memisahkan peserta dengan hasil rapid tes reaktif dalam bilik khusus. Sebanyak 1.142 orang mengikuti SKB CPNS Pemkot Surabaya selama 3 hari di mana dalam satu hari terdapat 3 sesi dengan peserta sebanyak 140 orang. Surya/Ahmad Zaimul Haq 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito memastikan, pihaknya sedang melakukan kajian mendalam terkait penentuan harga test swab Covid-19.

Pasalnya, hingga saat ini harga test swab yang akan dimulai dari Rp434.000 hingga Rp797.000 masih dibahas mendalam. Tentunya, memperhatikan keterjangkauan masyarakat.

Baca: Geram Pada Mereka yang Masih Abai dengan Covid-19, Dokter Lula Kamal: Apa sih Yang Dikejar?

Hal itu disampaikan Wiku saat keterangan pers Perkembangan Penanganan Covid-19 melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (1/10/2020).

"Harga swab berkisar antara Rp439.000 - Rp797.000 tersebut masih dikaji terus oleh pemerintah, karena kita ingin memastikan bahwa harga swab tersebut, betul-betul dapat terjangkau oleh masyarakat yang membutuhkan," kata Wiku.

Baca: Wiku: Covid-19 Bukan Hoaks, Tak Ada Yang Kebal Dari Virus Corona

Selain itu, Wiku ingin memastikan bahwa penyelenggara tes tersebut juga bervariasi dan memang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan.

Selain itu, mengambil untung harus dilakukan, tapi dalam jumlah yang terbatas. Karena situasi saat ini adalah masalah pandemi.

"Sehingga toleransi secara keseluruhan nanti akan kami umumkan kepada publik setelah semua kajian tersebut selesai," ucapnya.

Ikuti kami di
Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas