Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Masyarakat Wajib Meningkatkan Imunitas Tubuh

Berjemur pada pagi hari adalah kebiasaan baik yang akan membantu mengoptimalkan sistem imunitas tubuh manusia

Masyarakat Wajib Meningkatkan Imunitas Tubuh
freepik
Ilustrasi Covid-19 

Saat mengalami stres, tertekan, atau terancam, area di otak yang disebut hipotalamus bertindak sebagai alarm.

Area ini mengeluarkan sejumlah perintah yang dirancang bagi tubuh untuk bersiap-siap melawan atau menghindar dikenal sebagai respons fight or flight.

Bagian pertama yang menerima sinyal ini adalah kelenjar adrenal yang lalu mengeluarkan hormon adrenalin.

Selanjutnya, hormon ini membuat jantung berdebar dan frekuensi napas meningkat.

Baca juga: TRIBUNNEWSWIKI - Mengenal Hipoparatiroid, Minimnya Produksi Hormon Paratiroid

Gejala lain yang muncul akibat peningkatan adrenalin yakni kaku otot di area leher, bahu, dan rahang.

Keringat tiba-tiba bercucuran, timbul sakit kepala, dan gangguan saluran cerna seperti mual, nyeri ulu hati, diare, konstipasi, perubahan selera makan (baik meningkat maupun menurun), munculnya jerawat dan rasa gatal di tubuh, rasa lelah yang tak biasa, terdapat gangguan tidur, gangguan haid, hingga gairah seksual yang menurun.

Selain adrenalin, tubuh juga mengeluarkan hormon kortisol sebagai respons terhadap stres.

Hormon ini memicu peningkatan kadar gula darah.

Di otak, kortisol terikat dengan sel-sel saraf serta memengaruhi proses berpikir, termasuk bagaimana situasi-situasi yang membuat stres direkam dalam ingatan.

Keberadaan hormon ini dapat menjelaskan mengapa seseorang mampu mengingat situasi yang amat traumatis atau emosional dengan sangat jelas.

“Penderita Covid-19 biasanya panik.

Rasa panik akan memicu hormon stressor yang menimbulkan kepanikan.

Akibatnya, akan memicu berbagai macam penyakit.

Kepanikan biasanya  termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari, seperti saling curiga.

Begitu pula seperti saat sebelum Covid-19.

Pada awal pandemi, orang bingung karena tidak tahu petunjuk, tidak tahu jalan keluar. Sebenarnya yang harus dimaksimalkan adalah komunikasi.

Tapi, komunikasi tidak maksimal akhirnya muncul kepanikan.

"Dalam keadaan stres, orang akan mudah mengalami gangguan imunitas dan menimbulkan penyakit lain,” jelas dr Taufiq.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Didi Ruswandi menjelaskan, sebuah pengalaman berharga saat dirinya kali pertama terpapar Covid-19.

“Pada awal pandemi Covid-19, kami memang dilema. Saat itu, puncak musim hujan, DPU sedang sibuk menangani bencana hidrometereologi sehingga tidak mungkin work from home (WFH).

Bahkan pada puncak musim hujan, DPU aktif menghijaukan lahan kritis di kawasan hulu sungai.

Kami memang tak menghentikan aktivitas lapangan hanya membatasi jumlah personel saja,” ujar Didi.

Didi mengaku, dirinya hanya menjalankan tugas pekerjaan lapangan.

“Terus terang, saya jarang mendatangi tempat keramaian,” jelas Didi.

Baca juga: Marc Klok Berpotensi Isi Posisi Ini di Formasi Favorit Shin Tae-yong di Timnas Indonesia

Namun, pada 1 September 2020, menurut Didi, ada kebijakan bagi 50 orang setiap organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menjalani swab test.

“Dari 50 orang yang dites, delapan orang positif tapi pemberitahuannya sangat terlambat.

Hasil laboratorium baru kelar satu pekan kemudian. Delapan orang tersebut OTG. Kami langsung isolasi mandiri,” ujar Didi.

Didi segera mengosongkan garasi untuk aktivitas selama isolasi mandiri.

“Saya ingin meminimalisir kontak dengan keluarga. Saya tidur di garasi.

Peralatan makan minum dipisahkan. Bahkan, mencuci gelas piring di tempat berbeda.

Saya mencuci sendiri. Kami melakukan isolasi ketat,” kata dia.

Setelah tiga hari menjalani isolasi mandiri, Didi mengatakan, pihak keluarga melakukan swab test.

“Namun, hasil laboratorium baru diterima sembilan hari kemudian. Dari empat orang, tiga penghuni rumah selain saya juga terpapar,” jelas Didi.

Selama menjalani isolasi mandiri di rumah, Didi dan keluarga melakukan kegiatan positif untuk meningkatkan imunitas.

“Kami berolahraga, membaca buku, bermain media sosial, menulis. Kami juga banyak mengonsumsi buah-buahan, suplemen dan multivitamin. Makanan dikirim hanya sampai lokasi teras rumah saja,” jelas dia.

Ketua JPKM, Irwen Azhari mengatakan, JPKM terpicu untuk melakukan kampanye cara meningkatkan imunitas tubuh di tengah pandemi Covid-19.

“Sebab, selama ini yang sering diinformasikan hanya menerapkan perilaku disiplin protokol kesehatan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Tapi, ada satu yang terlupa yaitu meningkatkan imunitas tubuh yang wajib dilakukan oleh masyarakat,” tegas Irwen.

Selain melakukan kampanye meningkatkan imunitas tubuh, Irwen mengatakan JPKM akan melakukan acara donasi dan edukasi bertajuk Upaya Meningkatkan Imunitas di Tengah Pandemi Covid-19 di Jalan Angsana II No 278 RT 10 RW 06, Depok 2 Tengah, Sukmajaya, Kecamatan Mekarjaya, Depok, Jawa Barat, Minggu (15/11/2020), pukul 10.00-12.00 WIB.

Alasan JPKM melakukan donasi dan edukasi di Depok, kata Irwen, kasus pertama Covid-19 muncul di Indonesia berawal di Depok.

“Di sana, JPKM akan memberikan bantuan kepada ibu-ibu. Sebab, ibu adalah garda terdepan di keluarga yang memberikan kekuatan kepada generasi mendatang. Selain memberikan kasih sayang kepada keluarga, seorang ibu juga akan menyebarkan informasi terbaik kepada keluarga,” tutur Irwen.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas