Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

MUI: Keamanan, Efikasi, Serta Kehalalan Vaksin Covid-19 Satu Kesatuan 

MUI   akan terus memastikan bahwa vaksin Covid-19 yang akan beredar di Indonesia halal.

MUI: Keamanan, Efikasi, Serta Kehalalan Vaksin Covid-19 Satu Kesatuan 
TRIBUN/BIRO PERS/MUCHLIS Jr
Vaksin Covid-19 buatan Sinovac tiba di terminal cargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu (6/12/2020). Selanjutnya vaksin asal Cina tersebut langsung dikirim ke Kantor Pusat Bio Farma di Kota Bandung. TRIBUNNEWS/BIRO PERS/MUCHLIS Jr 

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh mengatakan bahwa keamanan, efikasi, serta kehalalan vaksin Covid-19 merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.

Oleh karena itu,  MUI  akan terus memastikan bahwa vaksin Covid-19 yang akan beredar di Indonesia halal.

"Jangan sampai dari sisi kandungan halal, tetapi tidak aman maka tidak boleh digunakan maka ini satu kesatuan dalam satu tarikan nafas, begitupun sebaliknya," kata dia dalam diskusi Trijaya FM, Sabtu (12/12/2020).

Asrorun menjelaskan bahwa kondisi kedaruratan atau kemendesakan tidak serta merta mengabaikan prinsip kehalalan vaksin.

Prinsip dasarnya bagi warga muslim adalah tidak boleh mengkonsumsi barang yang tidak halal.

Bahwa kemudian nanti dalam pengembangan vaksin tersebut hanya ada yang efektif dan aman, namun tidak ada yang halal maka akan dikalkulasikan masalah kemaslahatan dan kemudharatannya.

"Prinsipnya tadi, boleh menggunakan sesuatu zat yang asalnya tidak halal untuk digunakan tujuan yang lebih besar. Tapi apabila ada yang aman, efektif, dan halal, maka ya harus yang halal," katanya.

Penetapan fatwa halal vaksin Covid-19 Sinovac,  menurut dia,  masih dalam proses.

Pihaknya menunggu satu dokumen dari pihak produsen yakni Sinovac untuk menjadi pertimbangan penetapan fatwa.

"Hingga pekan kedua November tim audit dari komisi fatwa dari LPOM MUI, melampirkan hasil auditingnya, yang salah satunya adalah masih menunggu,  ada salah satu dokumen yang diharapkan dari pihak produsen dan dijanjikan untuk dilengkapi. nah posisinya sampai di situ," katanya.

Menurut dia, dokumen yang belum dilengkapi tersebut yakni mengenai pembiakan vaksinnya.

Dokumen tersebut cukup esensial untuk bahan telaah penetapan fatwa kehalalan vaksin.

"Kalau mengapanya (belum lengkap) itu  tergantung produsen, tapi kemarin Sinovac punya itikad untuk memenuhinya," kata dia. 

Ikuti kami di
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Hasanudin Aco
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas