Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Menristek Ungkap Mengapa Vaksin Indonesia Lebih Lamban Daripada Vaksin Asal China

Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Riset dan Teknologi (Kemenristek/BRIN) mengungkapkan alasan vaksin produksi Indonesia lebih lama dibanding vaksin

Menristek Ungkap Mengapa Vaksin Indonesia Lebih Lamban Daripada Vaksin Asal China
WARTAKOTA/Nur Ichsan
Pemkot Tangerang kembali menggelar penyuntikan vaksin Covid-19 kepada 3000 orang peserta dengan sasaran pedagang pasar, karyawan dan tenan mal yang digelar di 3 lokasi yakni di Pasar Anyar, Pasar Malabar dan Tangcity Mall, Senin (1/3/2021). Pemberian vaksin ini diharapkan selain dapat memberi harapan baru pemulihan ekonomi juga menjadi upaya yang efektif menekan penyebaran Covid-19 di Kota Tangerang. (WARTAKOTA/Nur Ichsan) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Alivio

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Riset dan Teknologi (Kemenristek/BRIN) mengungkapkan alasan vaksin produksi Indonesia lebih lama dibanding vaksin asal China.

Hal ini disampaikan dalam acara virtual Peringatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia dengan tema “Inovasi Indonesia Untuk Indonesia Pulih, Bangkit dan Maju”, Jakarta, Selasa (2/3/2021).

Seperti yang diketahui, saat ini Vaksin Merah Putih sedang dalam proses laboraturium dan rencananya akan diserahkan ke PT Bio Farma pada akhir Maret untuk di uji klinik.

Namun jauh sebelum Indonesia melakukan proses produksi vaksin, China sudah lebih dulu mengembangkan vaksin.

Dalam hal ini, Bambang selaku kepala Kemenristek menjelaskan penyebab vaksin buatan Indonesia lebih lamban dibanding China atau negara lainnya.

"Kita lihat backgroundnya, kunci dari suatu negara bisa menguasai vaksin apalagi menghasilkan vaksin dengan cepat itu adalah karena R&D (Research and Development) sudah kuat" ujar Bambang.

Research and Development (Penelitian dan pengembangan/litbang) adalah kegiatan penelitian, dan pengembangan, dan memiliki kepentingan komersial dalam kaitannya dengan riset ilmiah murni, dan pengembangan aplikatif di bidang teknologi.

Bambang menuturkan di pandemi ini pengembangan vaksin harus dilakukan secara mandiri dari hulu sampai hilir.

"Hilirnya mungkin kita merasa sudah punya Bio Farma tapi hulunya kita masih belajar banyak mengenai R&D vaksin khususnya memahami berbagai macam platform yang ada dalam pengembangan vaksin dan yang kedua pralihan dari hulu ke hilir (dari lab ke manufacturing)," ujar Bambang.

Baca juga: 10 Juta Bahan Baku Vaksin Sinovac Tiba, Total Vaksin di Indonesia 38 Juta Dosis

Proses tersebut harus dipelajari terlebih dahulu, tidak bisa semata-mata ketika mendapat bibit vaksin langsung dikirim ke pabrik lalu diproduksi.

"Ada learning proses yang harus dilalui, tetapi lebih baik kita bersusah-susah sekarang agar kedepannya bisa lebih mandiri," ujar Bambang.

Setelah bibit vaksin diserahkan ke Bio Farma (akhir maret), tahapan berikutnya yaitu manufacturing dan optimisasi purifikasi membersihkan bibit vaksin dari segala kemungkinan virus. Lalu akan, masuk ketahapan uji klinik 1,2, dan 3.

Tahapan uji klinik 1,2, dan 3 harus dilakukan kemudian pengajuan untuk mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Setelah mendapat izin BPOM, vaksin merah putih akan diproduksi massal dan dilakukan vaksinasi.

Ikuti kami di
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas