'Sering Diserang Buzzer', Begini Curhat Epidemiolog Selama Setahun Pandemi Covid-19
Dicky berharap bahwa apa yang terjadi pada 2020 hingga awal 2021 ini bisa menjadi pembelajaran semua pihak untuk bisa berkolaborasi atasi pandemi
Penulis:
Fitri Wulandari
Editor:
Eko Sutriyanto
Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Genap satu tahun kemunculan virus corona (Covid-19) yang telah berubah menjadi pandemi global dan menghancurkan perekonomian dunia.
Virus ini pun menjadi penyebab kematian bagi sebagian masyarakat di seluruh negara.
Banyak kisah yang 'lahir' dari kemunculan virus yang juga dikenal sebagai SARS-CoV-2 ini.
Masyarakat maupun pemerintah turut merasakan dampaknya.
Namun yang paling menarik adalah apa yang dirasakan oleh Epidemiolog sebagai Ahli yang memiliki tugas untuk mempelajari dan menganalisis tentang penyebaran, pola hingga penyakit pada populasi tertentu.
Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman pun membeberkan apa yang ia rasakan selama satu tahun terakhir saat menyampaikan potensi penyebaran Covid-19 yang bisa meningkat menjadi pandemi.
Baca juga: Airlangga: Sektor Pariwisata Masih Jadi PR Pemerintah pada Masa Pandemi
Ia menjelaskan bahwa saat ini, ketika situasi di dunia, khususnya Indonesia telah terdampak cukup parah akibat pandemi, dirinya berharap seluruh pihak bisa berkolaborasi menangani pandemi ini.
Termasuk masyarakat yang juga dianggap memiliki peranan penting dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19.
"Momen satu tahun pandemi ini, sebagai Epidemiolog, saya melihat kita ini sebetulnya dalam situasi rawan, kita dalam situasi keprihatinan. Ini perlu kolaborasi semua pihak, termasuk di level masyarakat," ujar Dicky, kepada Tribunnews, Selasa (2/3/2021) sore.
Ia pun memahami bahwa pasca pandemi muncul pada awal Maret 2020, masyarakat di Indonesia akhirnya terpolarisasi.
Pada saat itu, ia telah mengingatkan terkait potensi wabah yang bisa berubah menjadi pandemi, bahkan peringatan itu telah ia sampaikan satu bulan sebelumnya, yakni sejak Februari 2020.
Baca juga: Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir? Begini Perkiran Wakil Menkeu
"Tapi yang terjadi adalah polarisasi, seperti misalnya ketika tahun lalu Maret bahkan Februari tahun lalu, saya ingatkan tentang potensi ancaman pandemi untuk Indonesia," jelas Dicky.
Namun keyakinan masyarakat terkait potensi ini pun terpecah, mereka terpolarisasi.
Ada yang meyakini, namun ada pula yang enggan percaya.
Dicky pun mengaku mendapatkan serangan buzzer di media sosial, saat menyampaikan potensi itu.
Padahal ia menyampaikan sesuai dengan bidang keilmuannya.
"Wah itu namanya buzzer-buzzer itu menyerang, terjadi (di media sosial)," kata Dicky.
Selanjutnya, ia pun tetap menyuarakan usulannya, terkait strategi yang mungkin bisa diadaptasi pemerintah untuk mencegah berkembangnya virus ini.
Dirinya masih mengingat bahwa usulan ini ia sampaikan pada akhir Maret 2020.
Kebijakan seperti penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah pun ia anggap sebagai hal yang benar.
Karena mirip seperti sistem penguncian (lockdown), pembatasan aktivitas masyarakat ini tentunya bisa menekan berkembangnya angka mereka yang terinfeksi Covid-19.
Namun, saat itu ia pun kembali diserang buzzer.
"Kemudian saya masuk usul strategi, masih di akhir Maret 2020, perlu ada PSBB skala komunitas, kita harus respons cepat, kalau perlu lockdown lokal ya, PSBB itu kan lokal, Kelurahan Kecamatan, Wah diserang (buzzer) juga," papar Dicky.
Tidak hanya itu, serangan buzzer berlanjut saat dirinya memprediksi bahwa pandemi masih akan tetap berlangsung, bahkan belum tentu selesai pada 2021.
Baca juga: Pengusaha Jepang Bidang Medis Berharap Kerja Sama Indonesia untuk Keuntungan Bersama
Pernyataannya menjawab apa yang disampaikan sebagian masyarakat terkait prediksi bahwa pandemi hanya berlangsung beberapa pekan atau satu bulan saja.
"Kemudian ketika saya sampaikan di mana orang ramai 'oh selesai dua minggu, sebulan pandemi'. Saya sampaikan 'nggak mungkin selesai, bahkan 2021 aja belum tentu selesai'. Wah (setelah itu) diserang juga saya," tutur Dicky.
Kendati demikian, ia menikmati momen pro dan kontra ini sebagai 'suka duka' seorang Epidemiolog.
Dicky mengaku bahwa dirinya telah lama menggeluti profesi ini, selama lebih dari 20 tahun ia telah memberikan sumbangsih pada pemerintahan, khususnya terkait isu pengendalian pandemi.
Kiprahnya tidak hanya berskala nasional namun juga global, satu diantaranya melalui ASEAN.
"Ini suka duka (saya jadi Epidemiolog), padahal harus diketahui, saya ini 23 tahun di pemerintahan. Terlibat pengendalian pandemi juga pada level lokal, regional, nasional ya, global, saya di ASEAN lah, di OKI," jelas Dicky.
Baca juga: Komunikasi Terakhir Rina Gunawan dengan Manajernya, Ungkap Kondisinya Sempat Enakan
Oleh karena itu ia menegaskan, semua yang ia sampaikan telah didasarkan pada pengalamannya selama puluhan tahun sebagai Epidemiolog.
Saat banyak masyarakat lupa tentang wabah yang pernah terjadi di Indonesia seperti SARS dan flu burung (H5N1), dirinya masih jelas mengingat deretan wabah itu.
"Jadi apa yang saya sampaikan ini bukan modal dengkul, ada pengalaman puluhan tahun di situ. Yang mungkin sebagian besar masyarakat kita nggak ingat ketika SARS lah, ketika flu burung, segala macam (virus)," kata Dicky.
Saat itu, dirinya dan para Epidemiolog lainnya berupaya untuk membantu pemerintah dalam mengendalikan wabah ini.
"Tapi saya berjibaku begitu, tidak hanya saya, banyak Epidemiolog lain terutama di sektor pemerintahan," tutur Dicky.
Sehingga ia kembali menekankan bahwa apa yang ia prediksi bukan tanpa data ataupun asal bicara.
Semua pernyataannya dapat dipertanggungjawabkan karena dirinya memiliki rujukan.
"Nah jadi kalau saya sampaikan, mengingatkan, memprediksi, sebetulnya besar kemungkinan terjadi ya. Bukan asal ngomong, bukan tanpa dasar, mau tentang GeNose, mau tentang strain baru made ini Indonesia (B117), mau tentang bahwa akhir pandemi. Ya semua itu bisa dipertanggungjawabkan, ada rujukannya," tegas Dicky.
Ia pun miris saat melihat ada masyarakat yang terpolarisasi dalam menanggapi prediksinya mengenai pandemi.
"Nah semua yang disampaikan ini tapi sering kali ditanggapinya negatif, walaupun ada juga yang tidak (berpikir negatif). Masyarakat ini terpolarisasi," papar Dicky.
Namun Dicky berharap bahwa apa yang terjadi pada 2020 hingga awal 2021 ini bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk bisa berkolaborasi dalam menangani pandemi.
"Tapi ini harus jadi penyadaran bahwa dalam situasi seperti ini kita harus membangun suasana yang berkolaborasi," kata Dicky.
Ia juga berharap agar masyarakat bisa semakin cerdas dalam melihat sesuatu dan bisa membedakan mana kritikan maupun prediksi berbasis ilmu (science) dan mana yang hanya asal bicara.
"Termasuk kritis, harus bisa dilihat mana kritik yang sifatnya berbasis science, murni, mana yang bukan. Bisa kelihatan kok, ada dasarnya, apalagi kalau ditanya apa rujukannya," pungkas Dicky.