Tribun

Penanganan Covid

Venezuela Tolak Vaksin AstraZeneca Lewat COVAX

Vaksin AstraZeneca mwmang telah mendapatkan 'citra buruk' setelah beberapa negara Eropa dan negara lain di seluruh dunia

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Venezuela Tolak Vaksin AstraZeneca Lewat COVAX
ENDRIK SCHMIDT / DPA-ZENTRALBILD / DPA PICTURE-ALLIANCE MELALUI AFP
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, CARACAS - Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengatakan pada hari Rabu kemarin bahwa negara di kawasan Amerika Selatan tidak akan menerima vaksin virus corona (Covid-19) AstraZeneca jika ditawarkan oleh skema COVAX global yang diinisasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Vaksin AstraZeneca mwmang telah mendapatkan 'citra buruk' setelah beberapa negara Eropa dan negara lain di seluruh dunia menunda sementara penggunaannya pada pekan lalu.

Hal itu karena negara-negara tersebut khawatir vaksin ini dapat menyebabkan pembekuan darah pada warga yang menerimanya.

Meskipun WHO maupun regulator obat-obatan Eropa telah menyatakan bahwa vaksin ini aman digunakan.

Baca juga: Wamenkes Sebut Vaksinasi Turunkan Jumlah Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

"Jelas jika Venezuela disuruh memilih melalui mekanisme COVAX, negara ini akan memilih vaksin apa yang akan diotorisasi untuk rakyat Venezuela," kata Rodriguez.

Dikutip dari laman Macau Business, Kamis (25/3/2021), Venezuela sejauh ini hanya mengizinkan penggunaan vaksin Sputnik V Rusia dan yang diproduksi oleh perusahaan China Sinopharm.

Pada 15 Maret lalu, Venezuela memberi tahu Pan American Health Organization (PAHO) bahwa mereka tidak akan menerima vaksin AstraZeneca, meskipun telah memesan antara 1,4 dan 2,4 juta dosis melalui COVAX.

Baca juga: Estafet Obor Olimpiade Tokyo Dimulai di Tengah Pembatasan Covid-19 Jepang

COVAX merupakan inisiatif yang sengaja dibuat untuk memastikan distribusi yang adil dari vaksin Covid-19 ke negara-negara berpenghasilan rendah.

Namun tidak satu pun dari vaksin tersebut yang dikirim ke Venezuela, karena hutang negara itu yang belum terbayar ke WHO.

Untuk mencoba menyelesaikan masalah tersebut, Presiden Venezuela Nicolas Maduro pun meminta PAHO untuk membantu membebaskan 300 juta dolar Amerika Serikat (AS) yang diblokir di Bank of England akibat penerapan sanksi terhadap Venezuela.

Kesulitan yang dihadapi Maduro ini muncul saat pemimpin oposisi Juan Guaido mengatakan bahwa ia akan mengalokasikan 30 juta dolar AS dari dana negara Venezuela yang dibekukan AS.

Baca juga: Hari Ini, 16 Juta Vaksin Covid-19 Sinovac Tiba di Indonesia

Perlu diketahui, AS telah menyerahkan kendali dana kepada Guaido yang berencana menggunakannya untuk membayar akses ke mekanisme COVAX dan berinvestasi dalam rantai dingin yang diperlukan untuk membuat program vaksinasi Covid-19 sukses di Venezuela.

Sebelumnya. Venezuela mulai melakukan vaksinasi tenaga kesehatan mereka pada Februari lalu, namun pemerintah hanya merilis sedikit rincian tentang program vaksinasinya.

Menurut angka resmi yang sangat dipertanyakan oleh oposisi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat, Venezuela hanya mendaftarkan kurang dari 150.000 kasus positif Covid-19 dan kurang dari 1.500 kematian.

Namun, baru-baru ini peningkatan infeksi dan munculnya varian baru virus yang sangat menular dari Brazil, membuat prihatin pemerintah Venezuela.

Berita terkait

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas