Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

IDI : Varian Delta Merajai Kasus Lonjakan Covid-19 di Indonesia

Ketua Umum IDI Daeng M Faqih menyebut 80 persen lonjakan kasus COVID-19 yang terjadi di Indonesia didominasi varian Delta.

IDI : Varian Delta Merajai Kasus Lonjakan Covid-19 di Indonesia
tangkap layar zoom
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih dalam Gelora Talks secara virtual bertajuk Benarkah Varian Baru COVID-19 Makin Ganas?, Selasa (6/7/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih menyebut 80 persen lonjakan kasus COVID-19 yang terjadi di Indonesia didominasi varian Delta.

Selain memiliki sifat gampang menular, varian yang sebelumnya bernama B1617.2. juga dapat membuat pasien bergejala mengalami pemburukan.

"Sekarang ada yang lebih prihatin lagi varian Delta in mudah menular dari yang sebelumnya tapi kemudian apa diyakini oleh para pakar dan peneliti varian ini juga lebih berbahaya," ujarnya dalam Gelora Talks secara virtual bertajuk Benarkah Varian Baru COVID-19 Makin Ganas?, Selasa (6/7/2021).

Baca juga: Waspada, Virus Corona Varian Delta Rambah 9 Provinsi di Luar Jawa, Ini Rinciannya

Baca juga: PPKM Darurat Diterapkan, Waketum IDI: Kalau Gagal, Tambahan Kasus Bisa Lebih Besar

Ia menerangkan, dalam laporan LIPI menemukan di sebuah Rumah Sakit dengan pasien positif sebanyak 211 orang, 160 orang diantaranya dinyatakan terinfeksi varian Delta.

Sehingga dengan banyaknya orang yang membutuhkan perawatan, kian menguatkan varian Delta dapat membuat seorang pasien menjadi kritis.

Ilustrasi Covid-19  Varian Delta
Ilustrasi Covid-19 Varian Delta (shutterstock)

"Kalau diambil persentase sekitar 80 persen varian Delta ini sekarang lagi merajai. Ini kasus lonjakan karena memang kecepatan penularannya kemudian varian Delta ini menyebabkan keterpurukan yang lebih sering, buktinya memang kebanyakan kasus-kasus sekarang ini kalau dikatakan oleh para peneliti itu hospitalitynya lebih tinggi dari sebelumnya," terang dr.Daeng.

Lebih jauh Daeng mengatakan, saat ini pasien yang dirawat di RS memiliki gejala sedang, berat, hingga kritis dengan gejala Pneumonia dan gangguan gangguan sistemik lain.

"Jadi kalau semakin banyak kasus ini yang membutuhkan pelayanan di Rumah Sakit maka memang gejala perburukannya lebih cepat ini yang terjadi pada varian Delta. Oleh karena itu memang kalau kita mau menjaga ke depan tidak akan terjadi lonjakan seperti sekarang ini maka mau tidak mau kalau dari sisi masyarakat itu ada prokes ketat dan vaksinasi," tutur dia.

Ikuti kami di
Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas