Tribun

Virus Corona

Selidiki Mahalnya Tes PCR, Legislator PKS: Harga Bisa 10 Kali di India

Wakil Ketua PKS Mulyanto meminta pemerintah menyelidiki secara serius penyebab mahalnya harga tes PCR di dalam

Penulis: Reza Deni
Editor: Hendra Gunawan
Selidiki Mahalnya Tes PCR, Legislator PKS: Harga Bisa 10 Kali di India
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Petugas medis melakukan swab kepada warga secara drive thru di Altomed, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (9/8/2021). Di masa PPKM level 4 ini banyak warga yang melakukan swab PCR atau antigen karena menjadi persyaratan dalam bepergian. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Laporan Reporter Tribunnews.com, Reza Deni

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Wakil Ketua PKS Mulyanto meminta pemerintah menyelidiki secara serius penyebab mahalnya harga tes PCR di dalam negeri yang lebih mahal ketimbang negara-negara lain seperti India.

Legislator Komisi VII tersebut menilai ketimpangan harga yang terpaut besar ini harus dicermati.

Dia mengingatkan jangan sampai masyarakat Indonesia menjadi korban eksploitasi mafia bisnis kesehatan, yang mencari untung besar di tengah krisis.

Baca juga: Cara Mudah Download Sertifikat Vaksinasi Covid-19 Pertama dan Kedua di PeduliLindungi

"WHO menyarankan kita mencontoh cara India menangani Covid-19. India sudah terbukti mampu menurunkan kasus positif hariannya secara drastis salah satunya dengan memperbanyak tes," katanya kepada wartawan, Minggu (15/8/2021)

Dia mencontohkan India yang mampu melaksanakan tes secara masif, karena biayanya yang murah.

Baca juga: Sandiaga Uno: Vaksinasi Massal Covid-19 Gerak Cepat untuk Bangkit dari Pandemi

"Sedangkan biaya tes di Indonesia bisa sepuluh kali lipat," tegas Mulyanto.

Mulyanto ingin pemerintah harus bisa menjelaskan kenapa harga PCR di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan di India. Padahal bahan dan prosedur pemeriksaannya hampir sama.

"Bila terbukti ada pihak yang coba mencari keuntungan berlebih bisa segera diambil tindakan hukum," tambah Mulyanto.

Baca juga: Gelar Nobar Liga 1? Siap-siap Dibubarkan Polri-Satgas Covid-19 Hingga Diproses Hukum

Terkait dengan ketergantungan impor terhadap reagen dan bahan kimia penunjang tes PCR lainnya, Mulyanto menyebut pemerintah ke depannya harus terus mengembangkan industri petrokimia dalam negeri.

Pemerintah juga harus perkuat ekosistem dan infrastruktur riset dasar bidang industri dan enzim molekular (industrial and molecular enzyme) serta bidang kimia sintetik (chemical synthesis).

"Sehingga kita mampu memproduksi sendiri reagen dan bahan kimia lainnya, agar Indonesia tidak tergantung pada impor bahan yang sangat penting bagi kesehatan masyarakat," pungkasnya.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas