Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

Singapura Pelajari Kemungkinan Penggunaan Vaksin Non-mRNA untuk Dosis Booster

Singapura sedang mempelajari kemungkinan penggunaan vaksin non-mRNA virus corona atau Covid-19 sebagai dosis penguat atau booster.

Singapura Pelajari Kemungkinan Penggunaan Vaksin Non-mRNA untuk Dosis Booster
freepik.com
Ilustrasi vaksin Covid-19. Singapura sedang mempelajari kemungkinan penggunaan vaksin non-mRNA virus corona atau Covid-19 sebagai dosis penguat atau booster. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Singapura sedang mempelajari kemungkinan penggunaan vaksin non-mRNA virus corona atau Covid-19 sebagai dosis penguat atau booster.

Singapura pun sedang menjalin pembicaraan dengan pihak pemasok untuk mendapatkan jenis vaksin tersebut.

Hal tersebut disampaikan Menteri Senior Negara untuk bidang Kesehatan Singapura, Janil Puthucheary di Parlemen, pada Selasa.

Ia menanggapi beberapa pertanyaan yang dilontarkan Anggota Parlemen (MP) tentang strategi vaksinasi Singapura dan bagaimana penerapannya pada jalan menuju 'hidup berdampingan dengan Covid-19'.

"Komite Ahli Kementerian Kesehatan (MOH) tentang vaksinasi Covid-19 secara aktif mempelajari strategi heterolog yang melibatkan vaksin non-mRNA," kata Puthucheary.

Ia menambahkan bahwa kementerian akan terus mengamati data global dan lokal, terutama terkait risiko efek sampingnya sebelum merekomendasikan dosis booster untuk kelompok populasi tambahan.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (14/9/2021), saat ini, komite itu telah merekomendasikan agar kelompok lanjut usia (lansia) berusia di atas 60 tahun menerima dosis booster pada 6 hingga 9 bulan setelah penerimaan dosis kedua.

Baca juga: Ilmuwan Internasional Sebut Masyarakat Umum Tidak Perlu Disuntik Vaksin Booster Covid-19

Sementara mereka yang memiliki gangguan kekebalan (immunocompromized) harus mendapatkan suntikan booster pada dua bulan setelah penerimaan dosis kedua vaksin Covid-19.

Departemen Kesehatan Singapura telah mengatakan pada 3 September lalu bahwa orang-orang yang mengalami immunocompromized harus mendapatkan dosis booster dari vaksin mRNA yang sama untuk 'memastikan bahwa mereka memulai dengan respons kekebalan protektif yang memadai terhadap vaksinasi'.

Halaman
12
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas