Vaksin Merah Putih Ditargetkan Beredar Juli 2022
Tim peneliti Universitas Airlangga, Surabaya, telah menuntaskan pembuatan bibit vaksin atau seed vaccine untuk pencegahan Covid-19.
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim peneliti Universitas Airlangga, Surabaya, telah menuntaskan pembuatan bibit vaksin atau seed vaccine untuk pencegahan Covid-19.
Bibit vaksin buah karya peneliti dalam negeri itu diserahkan ke PT Biotis Pharmaceutical Indonesia (PT Biotis) untuk diproduksi sebagai Vaksin Merah Putih.
Direktur Utama PT Biotis FX Sudirman mengatakan progres pembuatan Vaksin Merah Putih sejauh ini masih on track.
Baca juga: Update Capaian Vaksinasi Covid-19: Dosis Pertama 127 Juta, Dosis Kedua 81 Juta
Baca juga: Pfizer Tengah Ajukan Permohonan Penggunaan Vaksin Covid-19 untuk Anak Usia 5-11 Tahun di Brasil
“Pembuatan seed vaccine sudah diselesaikan oleh tim Universitas Airlangga dengan hasil baik dan saat ini diterima oleh PT Biotis untuk diproses ke tahap selanjutnya," kata FX Sudirman melalui keterangan tertulis, Kamis (11/11/2021).
Vaksin tersebut ditargetkan sudah bisa diedarkan ke masyarakat pada Juli 2022.
Adapun tahapan selanjutnya, PT Biotis akan melakukan proses media fill upstream yang diharapkan akan selesai sebelum akhir tahun 2021.
Sebelumnya, kerja sama PT Biotis dan Unair berhasil menyelesaikan proses penelitian hingga uji praklinis Vaksin Merah Putih selama kurang dari satu tahun.
FX Sudirman mengajak pemangku kepentingan maupun masyarakat untuk terus memberikan dukungan kepada tim peneliti Vaksin Merah Putih.
“Vaksin Merah Putih adalah vaksin resmi pertama buatan Indonesia, kami berharap dukungan dari seluruh stakeholders dan masyarakat agar Indonesia bisa segera merdeka dan terlepas dari ketergantungan impor vaksin," ujar Sudirman.
PT Biotis Pharmaceutical Indonesia merupakan perusahaan swasta nasional yang ditunjuk pemerintah untuk menemukan, mengembangkan, memproduksi, dan mengkomersilkan vaksin dalam negeri yang aman dan berkualitas tinggi.
Tentang Metode Vaksin Merah Putih
Lantas apa vaksin meraj putih? Arsip artikel Tribunnews.com berjudul Vaksin Nusantara Jadi Polemik, Vaksin Merah Putih Siap Produksi Masal, Apa Beda Keduanya?, diketahui jika vaksin Merah Putih merupakan vaksin yang bukan merujuk hanya satu vaksin saja. Melainkan sekelompok kandidat vaksin yang dikembangkan dari berbagai lembaga.
Saat ini vaksin Merah Putih dikembangkan oleh enam lembaga dalam negeri, yakni LBM Eijkman, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Airlangga.
Enam lembaga tersebut mengembangkan vaksin Covid-19 dengan metode yang berbeda.
Eijkman mengembangkan dengan platform protein rekombinan. UI dengan platform DNA, MRNA, dan virus-like particle.
Kemudian Universitas Airlangga adenovirus, ITB juga adenovirus, Universitas Gajah Mada menggunakan protein rekombinan, serta LIPI juga dengan protein rekombinan.
Sebelum digunakan, bibit Vaksin Merah Putih telah melalui uji praklinis tahap 1,2 dan 3 kepada hewan dengan hasil yang aman dan baik.
Selanjutnya, bibit vaksin akan mulai dilakukan uji klinis tahap 1 kepada 100 orang, diteruskan dengan uji klinis tahap 2 pada Januari 2022 kepada 400 orang dan uji klinis terakhir atau yang ketiga pada Februari 2021 kepada sekitar 1000 orang.
“Ini kan sudah lulus uji praklinis ke hewan, kalau bisa uji klinisnya mulai tahun ini, untuk mengukur keamanannya,” tutur Menkes.
Diharapkan Bisa untuk Vaksin Booster
Tak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, bibit vaksin Merah Putih diharapkan nantinya bisa dikembangkan untuk memberikan vaksin booster dan vaksin bagi anak-anak usia 5-12 tahun.
“Karena saat ini baru ada satu vaksin yang bisa digunakan untuk anak usia 5-12 tahun. Padahal ada 30 juta anak-anak di Indonesia yang menjadi sasaran penerima vaksin COVID-19,” terangnya.
Menkes menambahkan keberhasilan Univeritas Airlangga menemukan vaksin sendiri, merupakan tonggak sejarah dalam perkembangan sistem kesehatan Indonesia. Pihaknya ingin momentum baik ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan sarana dan prasaran terutama fasilitas dan kompetensi pengembangan vaksin.
“Saya berharap Indonesia bisa menguasai teknologi, bukan hanya berbasis dari teknologi virus bukan hanya berbasis teknologi protein rekombinan maupun asam nukleat,” kata Menkes.