Ahli Epidemiologi: Perlu Strategi yang Tepat Hadapi Gelombang Ketiga Varian Omicron
Dicky pun mengatakan prediksi dimunculkan untuk meningkatkan mitigasi yang kurang. Prediksi jadi dasar strategi mitigasi.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Malvyandie Haryadi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman menyatakan telah memprediksi terjadinya lonjakan kasus Covid-19 ketiga sejak November 2021.
Meskipun beberapa lembaga internasional menyatakan bahwa tidak akan ada gelombang ketiga di Indonesia.
Dicky pun mengatakan prediksi dimunculkan untuk meningkatkan mitigasi yang kurang. Prediksi jadi dasar strategi mitigasi.
"Saat ini, dengan pengalaman yang sudah ada Delta dan Alpha, kita pada posisi beruntung. Kalau tidak dimanfaatkan dengan strategi lebih cepat, dan kuat, akhirnya dampaknya akan sama. Dan kita akan gagal menyelamatkan banyak korban," ungkapnya pada Tribunnews, Rabu (2/2/2022).
Baca juga: Ahli Epidemiologi Sarankan Pintu Masuk Diperketat Agar Tidak Kebobolan Varian Lain Covid-19
Dicky pun berkali-kali menekankan Omicron sangat rawan bagi beberapa kelompok. Bukan hanya orang lanjut usia dan komorbid. Saja. Tapi anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun.
"Ini serius sekali. Karenanya saya bicara PTM dihentikan dulu kenapa. Karena harus meminimalisir lonjakan kasus. Terburuknya, itu bisa sampai 500 ribu," tegasnya.
Di sisi lain, Dicky pun mengingatkan Indonesia dalam melakukan deteksi dini yaitu testing, treacing dan treatment (3T). Sejauh ini, kata Dicky kemampuan Indonesia baru di atas 100 ribuan.
"Walau pun saya sampaikan sekarang, 300 ribu, pada puncaknya nanti, bahkan sekarang sudah berada di atas 100 ribu sebetulnya tapi itu kan gak belum tentu ketemu, karena keterbatasan testing," paparnya lagi.
Baca tanpa iklan