Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Insiden Tolikara di Papua, Solidaritas Umat Beragama Jadi Kunci

Ketua DPD RI Irman Gusman mengatakan solidaritas antar umat beragama jadi kunci kemajemukan bangsa. Insiden Tolikara diharapkan tidak terulang

Insiden Tolikara di Papua, Solidaritas Umat Beragama Jadi Kunci
Istimewa
Ketua DPD RI Irman Gusman mengatakan solidaritas antar umat beragama jadi kunci kemajemukan bangsa. Insiden Tolikara diharapkan tidak terulang lagi di masa depan. (ilustrasi/istimewa) 

TRIBUNNEWS.COM – Kerukunan antar umat beragama memang menjadi topik sentral beberapa tahun ke belakang hingga kini. Banyak kejadian yang mencoreng kerukunan antar umat beragama.

Mulai dari prasangka berlebihan terhadap penduduk yang memiliki latar belakang berbeda, hingga kejadian yang menyulut permusuhan satu sama lain dengan menyertakan tindakan kekerasan.

Insiden Tolikara yang terjadi di Papua beberapa waktu lalu merupakan contoh nyata akan hal itu. Peristiwa kekerasan tersebut merupakan hal yang patut disayangkan.

Indonesia merupakan negara dengan beragam suku, agama, dan etnis yang berbeda. Sudah sepatutnya keberagaman penduduk Indonesia disikapi dengan bijak dengan mengutamakan rasa persaudaraan dan toleransi.

Adanya insiden tersebut sepantasnya menjadi bahan pembelajaran semua pihak yang peduli terhadap kemajemukan bangsa. Bahkan, Ketua DPD RI Irman Gusman menegaskan, insiden tersebut harus menjadi yang terakhir, agar penduduk Indonesia dapat menjalankan aktivitas agamanya masing-masing dengan aman dan nyaman.

Irman Gusman mengatakan, kerukunan antar umat beragama merupakan modal penting untuk memelihara stabilitas nasional. Insiden Tolikara yang terjadi di Papua pada Hari Raya Idul Fitri, Jumat (17/7/2015) itu harus disikapi dengan dewasa.

“Para tokoh lintas agama perlu meningkatkan dialog dengan masyarakat, untuk memberikan pemahaman tentang kondisi pluralitas bangsa, serta perlunya solidaritas di antara berbagai kelompok masyarakat yang beragam,” tutur Irman Gusman sehari setelah insiden tersebut terjadi, Sabtu, (18/7/2015).

Lebih lanjut Irman mengatakan, keberagaman merupakan kekuatan sejak Indonesia diproklamirkan tahun 1945. Jauh sebelum itu pun, tokoh-tokoh dari berbagai daerah di Indonesia telah membulatkan tekad membangun bangsa dengan menyatakan rasa persatuannya lewat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Atas dasar itu, menurut Irman, insiden di Tolikara telah mencoreng wajah Indonesia sebagai bangsa. Oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan pembakaran rumah dan tempat berjualan harus diproses secara hukum, agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

“Kita sangat prihatin dengan kejadian ini, karena tidak diantisipasi sebelumnya oleh aparat penegak hukum serta Pemerintah Daerah setempat,” tandas Irman.

Ketua DPD RI itu mengatakan, kejadian itu sebenarnya tidak perlu terjadi jika ada pemantauan oleh Pemda Papua dan aparat keamanan yang bertugas di Tolikara.

Oleh karena itu, ia menghimbau kepada seluruh aparat penegak hukum di Indonesia mulai sekarang meningkatkan kewaspadaan terhadap semua potensi gangguan keamanan yang dapat merusak persatuan bangsa.

Terlebih, kaum Muslim di Indonesia masih diselimuti suasana Idul Fitri yang merupakan hari kemenangan, sehingga sudah sepantasnya kerukunan antar umat beragama di Indonesia senantiasa dijaga.

“Kita tunjukan kerukunan hidup antara umat beragama di Indonesia tetap dapat dipertahankan dan dilestarikan, walaupun di sana-sini masih banyak pekerjaan rumah yang perlu kita selesaikan,” tegas Irman.

Insiden Tolikara sendiri bermula dari peristiwa pembakaran yang berlangsung sekitar pukul 07.00 WIT, Jumat (17/7/2015). Saat itu ratusan warga tiba-tiba berdatangan dari berbagai arah, melempari dan membakar beberapa rumah dan kios yang akhirnya merembet ke mushala.

Ratusan umat Muslim di Karubaga yang sedang melaksanakan shalat Idul Fitri di Lapangan Koramil Tolikara pun membubarkan diri, karena khawatir menjadi sasaran amuk massa. Beberapa warga tercatat menjadi korban dan dibawa ke RS Wamewa dan Jayapura untuk mendapat perawatan.

Menyikapi insiden tersebut, DPD RI lebih lanjut mengajak semua pihak dan kelompok masyarakat menunjukan sikap dewasa dalam menjaga keutuhan bangsa.

Keteladanan dalam mengutamakan pikiran jernih dan bebas dari prasangka merupakan syarat utama terwujudnya kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Selain itu, Irman Gusman juga mengajak rekan-rekan media di Indonesia turut menyejukkan suasana dengan tidak menurunkan berita dan analisis yang memperkeruh keadaan.

Jika semua pihak mengedepankan pikiran yang jernih dan kedewasaan, lanjut Irman, nuansa keberagaman dan kemajemukan bangsa Indonesia dapat menjadi sebuah rahmat yang menyejukan.

Ikuti terus perkembangan terbaru dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) hanya di Kabar DPD RI.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Advertorial
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas