Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Refleksi 2020, Optimisme, dan Tantangan Berat di 2021 Versi Azis Syamsuddin

Azis menyatakan bahwa tahun 2020 meninggalkan sukacita, namun juga sarat ketidakpastian di semua sektor dan elemen kehidupan.

Refleksi 2020, Optimisme, dan Tantangan Berat di 2021 Versi Azis Syamsuddin
Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Wakil Ketua DPR RI - Azis Syamsuddin 

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin menuliskan refleksi pribadinya mengenai tahun 2020. Dalam beberapa hari memasuki tahun 2021, Azis menyatakan bahwa tahun 2020 meninggalkan sukacita, namun juga sarat ketidakpastian di semua sektor dan seluruh elemen kehidupan bangsa Indonesia.

?Kita pahami, pandemi Coronavirus disease 2019 (Covid-19) adalah penyebabnya. Situasi atau kondisi seperti ini memang tidak hanya mendera negara kita. Tetapi hampir seluruh negara di dunia. Itu membuat segala hal menjadi semakin sulit diyakini dengan kebenaran yang hakiki. Bahkan bisa dikatakan bahwa yang lebih mudah dipahami saat ini adalah ketidakpastian," ujar Azis, dikutip dari rilis yang diterima Tribunnews, Minggu (27/12/2020).

Berada di penghujung 2020 dan di ambang 2021 merupakan momen yang tepat bagi seluruh elemen bangsa, seluruh masyarakat, untuk merefleksikan apa saja yang telah dilakukan selama satu tahun ke belakang serta menyusun rencana ke depan agar lebih baik.

"Sekarang ini memang tidak sedikit yang mengatakan bahwa kita berada dalam ruang gelap, cenderung menghadirkan rasa bingung, bahkan ketakutan dan kepanikan. Tanpa mengenali ruang itu, orang sulit, bahkan mungkin tak kan tahu apa yang harus dilakukan di dalam kegelapan. Namun begitu Anda menemukan tombol penerangan, menyaksikan lampu, efek cahaya akan memicu pemikiran, inspirasi dan kreatifitas mengenai apa yang harus dilakukan," tambah Azis.

Azis mengatakan bahwa masyarakat harus pahami dulu analoginya. Bila di tengah kekalutan situasi dalam kehidupan, tiba-tiba ada yang berpikir jernih dan menyampaikan gagasan-gagasan, pintu solusi terbuka. Menurutnya, inilah yang disebut the power of idea. Kekuatan ide dan gagasan untuk menentukan langkah-langkah ke depan.

"Saya merasakan, bahwa bagi banyak pihak, baik perorangan maupun institusi, maupun organisasi, Desember terakhir dalam kalender Masehi selalu dilakukan refleksi akhir tahun. Refleksi ini untuk merenungi kembali perjalanan yang telah dilakukan, yang merupakan sebuah gambaran," lanjut Azis.

Begitu pula dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, patut kiranya kita merenunginya kembali. Di sepanjang tahun 2020 ini, banyak persoalan-persoalan bangsa yang terus mengemuka, mulai dari pandemi Covid-19 yang menghajar dan memengaruhi semua sendi kehidupan, persoalan politik, serta saling serang yang berujung pada ujaran kebencian dan hilangnya rujukan nilai.

Selain itu, permasalahan lain mulai dari pengangguran, kriminalitas, skandal korupsi, geng motor, narkoba, terorisme, hingga bencana alam. Ini semua menjadi persoalan bangsa yang harus ditangani secara serius, agar bangsa yang besar ini tidak semakin kehilangan jati diri, kehilangan arah.

"Dari semua persoalan bangsa yang kita hadapi ini penting bagi kita untuk melakukan evaluasi atas semua pelaksanaan tugas selama satu tahun terakhir. Ini sangat strategis.guna mengetahui apa saja capaian kita, sejauh mana output dan outcome-nya memenuhi target dan sasaran yang telah ditetapkan, serta apa saja kelemahan serta kekurangan yang perlu diperbaiki ke depannya," terang Azis.

Menurut Azis,refleksi merupakan momen yang tepat untuk melakukan asesmen atas perkembangan situasi, baik nasional maupun internasional, dan proyeksinya untuk tahun mendatang, sebagai basis untuk melakukan penyesuaian, fokusing dan refokusing kebijakan serta langkah yang akan ditempuh.

"Tentunya sudah kita sadari bersama bahwa fokus utama pemerintah sepanjang tahun 2020 adalah menangani wabah Covid-19 dan seluruh dampaknya, baik kesehatan, sosial, ekonomi dan hukum," katanya.

Menurut Azis, Joko Widodo dan jajaran menterinya memusatkan perhatian sepenuhnya pada upaya pencegahan penularan, penanganan korban, pemberian bantuan sosial bagi mereka yang terdampak, dan menjaga perekonomian agar tidak mandeg (terhenti) ataupun jatuh terlalu dalam.

"Dalam konteks ini saya mengapresiasi kinerja dari Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Bapak Airlangga Hartarto. Juga Gugus Tugas Penanganan Covid-19 yang diketuai Bapak Doni Monardo. Saat ini kita semua berharap pemerintah baik melalui Departemen Kesehatan serta KPCPEN, gugus tugas, mampu mengeksekusi dengan baik keputusan Bapak Presiden yang sudah memastikan pemberian vaksin Covid-19 secara gratis atau cuma-cuma kepada seluruh elemen masyarakat." tambah Azis.

Azis mengatakan, tantangan berikutnya bagi pemerintah adalah mengupayakan segera tersedianya vaksin yang aman, manjur dan secara syariah halal atau diperbolehkan, baik vaksin produksi luar negeri maupun produk nasional.

Terakhir, Azis mencatat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut. Di antaranya, pertama, pengentasan kemiskinan. Kedua, pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil/UMK.

"Ketiga, reformasi birokrasi. Keempat, masalah-masalah di bidang ekonomi dan keuangan. Kelima, deradikalisasi dan kontra radikalisme. Keenam, percepatan pembangunan kesejahteraan di Bumi Cenderawasih berkaitan dengan Otonomi Khusus Papua," pungkasnya. (*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas