Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Amalan-Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah, Banyak Pahala dan Keutamaannya

Memasuki bulan Dzulhijjah, ada beberapa amalan sunnah yang bisa dilakukan oleh umat muslim untuk meraih pahala.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Amalan-Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah, Banyak Pahala dan Keutamaannya
Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Memasuki bulan Dzulhijjah, ada beberapa amalan sunnah yang bisa dilakukan oleh umat muslim untuk meraih pahala. 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah telah menetapkan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1441 Hijriyah jatuh pada Jumat, 31 Juli 2020.

Awal 1 Dzulhijjah 1441 Hijriyah dimulai pada Rabu (22/7/2020).

Bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang istimewa karena terdapat beberapa peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini.

Diantaranya yakni peristiwa dikeluarkannya Nabi Yunus dari perut Ikan, diampuninya Nabi Adam serta perintah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Islamil yang kemudian diganti dengan domba.

Memasuki bulan Dzulhijjah, ada beberapa amalan sunnah yang bisa dilakukan oleh umat muslim untuk meraih pahala.

Berikut ini beberapa amalan sunnah pada Bulan Dzulhijjah yang bisa dilakukan oleh umat muslim yang Tribunnews.com himpun dari berbagai sumber.

Puasa di 9 Hari Pertama

Rekomendasi Untuk Anda

Disunnahkan bagi umat muslim untuk melaksanakan puasa pada sembilan hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Puasa di sembilan hari pertama ini termasuk juga puasa Arafah yang dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah dan juga Puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah.

Dari Ummul Mukminin, Hafshah radliallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani).

Diejelaskan dalam Buku Pintar Panduan Lengkap Ibadah Muslimah oleh Ust. Muhammad Syukron Maksum, puasa hari Arafah merupakan puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah, kecuali bagi jamaah haji.

Puasa Arafah memiliki keutamaan yakni daoat menebus dosa tahun lalu dan setahun yang akan datang.

Sedangkan keistimewaan puasa Tarwiyah, dapat menghapus dosa yang dibuat tahun lalu.

Baca: Fikih Kurban Idul Adha: Simak Tata Cara dan Adab Menyembelih Hewan Kurban Sesuai Sunah Rasulullah

Baca: Panduan Tata Cara Salat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban di Masa Pandemi Covid-19

Berkurban

Menyembelih hewan kurban termasuk amal saleh yang paling utama.

Ibadah kurban ini meneladani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as. yang dengan taat mematuhi perintah Allah SWT.

Penyembelihan hewan kurban kurban dilaksanakan selama 4 hari, yaitu pada 10 Dzulhijjah (hari nahar), dan 11 hingga 13 Dzulhijjah (hari tasyrik).

Hewan yang disembelih dalam kurban diutamakan domba, hal ini berdasar riwayat yang menerangkan bahwa penyembelihan terhadap Nabi Ismail diganti dengan seekor domba jantan dari surga.

Nabi berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu. [Muttafaq ‘Alaihi]

Namun demikian, selain domba lazimnya hewan untuk berkurban dapat berupa unta atau sapi.

Baca: Beli Hewan Kurban di Saat Pandemi Tanpa Harus Keluar Rumah

Baca: Belum Ada Ide untuk Masak Daging Kurban? Ini Cara Menyimpannya Agar Tetap Segar

Larangan Memotong Kuku dan Rambut

Memasuki bulan Dzulhijjah, bagi umat muslim yang ingin berkurban, ada suatu amalan sunnah yang sifatnya larangan.

Jika larangan tersebut tidak dilakukan maka dapat menambah pahala yang diterima.

Larangan tersebut yakni untuk memotong kuku dan juga rambut.

Dianjurkan bagi seseorang yang ingin berkurban, ketika sudah memasuki bulan Dzulhijjah, maka dianjurkan untuk tidak memotong kuku dan mencukur rambut.

Ustaz Adi Hidayat dalam sebuah ceramahnya menerangkan, ketentuan ini berlaku sejak tanggal 1 hingga waktu disembelihnya hewan kurban oleh shahibul qurban.

Tidak ada dosa bagi shahibul qurban yang ingin memotong kuku dan rambutnya di masa itu karena ini merupakan suatu sunnah.

Bagaimana jika niat kurban muncul di pertengahan sepuluh pertama bulan Dzulhijjah?

Bagi orang yang telah memotong kukunya atau memangkas rambutnya pada awal Dzulhijjah karena tidak ada niatan untuk berkurban, maka tidak mengapa.

Kemudian keinginan itu muncul di pertengahan sepuluh hari pertama (misalnya pada tanggal 4 Dzulhijjah), maka sejak hari itulah dia harus menahan diri dari memotong rambut atau kukunya.

Adapun jika niat kurban muncul ketika tanggal 10 Dzulhijjah, maka larangan itupun tidak berlaku.

Perintah larangan memotong kuku dan rambut ini berlaku pada orang yang ingin berkurban, bukan pada hewan yang akan disembelih.

Adapun maksud dari perintah larangan ini, agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosa shahibul qurban ketika hewan kurbannya disembelih.

"Jadi begitu hewan kurbannya disembelih dari ujung rambut sampai dengan ujung kuku itu Allah berkenan mengampuni."

"Khawatir ketika belum diampuni sudah dipotong, terpisahlah bagian dari dirinya, bersaksi di akhirat nanti, padahal sebagian dosa-dosanya telah diampuni dihadapan Allah SWT," jelasnya.

Baca: Tips Mengatur Keuangan Agar Bisa Menunaikan Ibadah Kurban Setiap Tahun

Baca: Menjual Kulit Hewan Kurban Lalu Hasilnya Dishodaqohkan Kepada Fakir Miskin, Bolehkah?

Shalat Idul Adha

Idul adha disebut juga ‘Idul-Qurban atau hari raya kurban, karena pada hari itu dilaksanakan ibadah kurban.

Iduladha dirayakan dengan mengerjakan shalat Iduladha dan penyembelihan hewan kurban.

Ada beberapa anjuran sebelum melaksanakan Shalat Idul Adha, diantaranya yakni berhias dengan memakai pakaian bagus dan wangiwangian.

Selain itu, dianjurkan berpuasa sejak fajar sampai dengan selesai shalat Id.

Dianjurkan untuk berangkat dengan berjalan kaki dan pulang melalui jalan lain, sambil bertakbir.

Memperbanyak Dzikir dan Shalat

Dianjurkan untuk banyak membaca tahlil, takbir, tahmid, mengerjakan amal shaleh, terutama pada tanggal 1- 10 Dzulhijjah, bagi yang tidak sedang berhaji.

Rasulullah saw. memberikan tuntunan agar pada awal awal bulan Zulhijjah umat Islam meningkatkan amal saleh dan memperbanyak bacaan tahlil, tahmid dan takbir.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Nabi saw. Beliau bersabda, ”Tiada harihari dimana amal shalih paling utama di sisi Allah dan paling dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Perbanyaklah pada hari itu dengan Tahlil, Takbir dan Tahmid.” (HR. Ahmad).

(Tribunnews.com/Tio)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas