Cara Melempar Jumrah Ula, Wusta, dan Aqabah dalam Ibadah Haji
Setiap jemaah haji wajib melontar jumrah setelah mabit di Muzdalifah dan Mina. Jika tidak melontar jumrah maka akan dikenai dam/denda/fidyah.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- Melontar jumrah adalah salah satu rangkaian wajib haji yang dilakukan dengan melempar batu kerikil ke Jumrah Ula, Wusta, dan Aqabah sebagai simbol melawan godaan setan.
- Ibadah ini mengikuti sunnah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.
- Kerikil lontar jumrah biasanya diperoleh di Muzdalifah atau dibagikan oleh panitia haji.
- Hikmah melontar jumrah yaitu agar umat Islam terus melawan hawa nafsu, godaan syaitan, dan keburukan dalam kehidupan.
TRIBUNNEWS.COM - Melontar jumrah merupakan salah satu rangkaian wajib dalam ibadah haji yang dilakukan di Mina pada hari-hari tertentu.
Ibadah ini dilakukan dengan melempar batu kerikil ke arah tiga tempat jumrah, yaitu Jumrah Ula (Sughra), Jumrah Wusta, dan Jumrah Aqabah (Kubra), sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan mengikuti sunnah Nabi Ibrahim AS serta Rasulullah SAW.
Secara sederhana, jumrah adalah tempat atau tugu yang menjadi sasaran lempar batu kerikil oleh jemaah haji.
Dalam pelaksanaannya, jemaah melempar tujuh butir batu kecil ke arah marma atau area sasaran jumrah sambil membaca takbir.
Kementerian Haji dan Umrah menjelaskan, tiga jumrah tersebut memiliki urutan dan waktu pelaksanaan yang telah diatur dalam syariat Islam.
Jumrah Ula atau Sughra adalah jumrah pertama yang dilempar saat hari Tasyrik. Setelah itu dilanjutkan ke Jumrah Wusta sebagai jumrah kedua, lalu terakhir Jumrah Aqabah atau Kubra yang menjadi jumrah terbesar.
Pada tanggal 10 Dzulhijjah atau Hari Nahr, jemaah hanya melontar Jumrah Aqabah. Sedangkan pada hari Tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, jemaah melontar ketiga jumrah secara berurutan mulai dari Ula, Wusta, hingga Aqabah.
Hukum melontar jumrah dalam ibadah haji adalah wajib. Karena termasuk wajib haji, maka jemaah yang meninggalkannya tanpa uzur syar’i akan dikenakan dam atau fidyah. Oleh sebab itu, pelaksanaan lontar jumrah harus diperhatikan dengan baik sesuai tuntunan syariat dan ketentuan waktu yang berlaku.
Jika seseorang tidak melaksanakan melontar jamrah maka ia dikenai dam atau fidyah atau denda. Bagi jemaah yang berhalangan, melontar jumrah dapat dibadalkan (diwakilkan) oleh orang lain.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang." (QS. Al-Baqarah: 203)
Baca juga: Doa Mabit di Mina agar Meraih Keberkahan Saat Ibadah Haji
Ayat ini menjadi salah satu dasar pelaksanaan ibadah di hari-hari Mina, termasuk melontar jumrah pada hari Tasyrik.
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: "Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian." (HR. Muslim)
Hadis tersebut menjadi pedoman penting bahwa tata cara melontar jumrah dilakukan dengan mengikuti contoh yang diajarkan Rasulullah SAW.
Adapun waktu melontar Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah dimulai setelah lewat tengah malam, meskipun waktu yang paling utama adalah setelah matahari terbit. Namun, demi keamanan dan menghindari kepadatan, banyak jemaah memilih melontar pada siang atau malam hari sesuai arahan petugas haji.
Sementara itu, lontar jumrah pada hari Tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah umumnya dilakukan setelah masuk waktu zuhur hingga malam hari. Meski demikian, sebagian ulama memberikan keringanan untuk melontar lebih awal dalam kondisi tertentu, terutama demi keselamatan dan kemudahan jemaah.
Karena itu, penting bagi setiap jemaah memahami cara melempar Jumrah Ula, Wusta, dan Aqabah dengan benar agar ibadah haji dapat dilaksanakan secara tertib, aman, dan sesuai tuntunan syariat Islam.
Dari Mana Mendapatkan Kerikil untuk Melontar Jumrah?
Kerikil untuk melontar jamrah biasanya diperoleh jemaah haji saat berada di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah. Pada masa dahulu, jemaah mengambil sendiri batu-batu kecil di area tanah lapang Muzdalifah, Arafah, atau Mina.
Namun saat ini sebagian besar kawasan di Makkah dan sekitarnya sudah dipaving dan diperkeras sehingga cukup sulit mencari kerikil secara langsung.
Karena itu, pemerintah dan panitia penyelenggara haji Arab Saudi telah menyiapkan kantong-kantong kerikil khusus untuk jemaah haji.
Kerikil tersebut biasanya dibagikan kepada jemaah saat di Arafah atau Muzdalifah. Setiap kantong telah disesuaikan dengan jumlah kebutuhan lontar jumrah, yaitu 49 butir bagi jemaah yang mengambil Nafar Awal dan 70 butir bagi Nafar Tsani.
Kerikil yang digunakan untuk melontar jumrah harus berupa batu kecil yang bersih dan suci, umumnya berukuran seperti kelereng kecil. Batu tidak boleh diambil dari area sekitar tempat jumrah (Jamarat).
Cara Melontar Jamrah
- Melontar kerikil mengenai marma dan masuk ke lubang
- Melontar setiap jamrah dengan 7 kerikil dan setiap kali lontaran satu kerikil. Jika melontar dengan 7 kerikil sekaligus maka dihitung satu lontaran.
- Jemaah menggunakan 7 kali lontaran kerikil pada setiap jamrah.
- Melontar jamrah dengan urutan mulai dari jamrah Sughra, Wustha, dan Kubra.
Ketika hendak melontar jamrah, jemaah haji dapat membaca doa melontar jumrah.
Mengutip buku Manasik Haji dan Umrah 2026 oleh Kementerian Haji dan Umrah, berikut doa ketika melontar jamrah.
Doa Ketika Melontar Jamrah
بِسْمِ اللهِ اللَّهُ أَكْبَر
Bismillāh, Allāhu akbar
Artinya: "Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar."
Doa Setelah Melontar Jamrah
الْحَمْدُ اللَّهِ كَثِيرًا طَيْبًا مُبَارَكًا فِيهِ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيِّ ثَنَاءَ
عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَفَضْتُ
وَمِنْ عَذَابِكَ أَشْفَقْتُ وَإِلَيْكَ رَ بْتُ وَمِنْكَ رَهِبْتُ
فَاقْبَلْ نُسُكِي وَأَعْظِمْ أَجْرِي وَارْحَمْ تَضَ عِي وَاقْبَلْ تَوْبَي
وَأَقِلَ عَتْرَنِي وَاسْتَجِبْ دَعْوَنِي وَأَعْطِنِي سُؤْلِي اللَّهِمَّ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِمَّا وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُجْرِمِين،َ وَأَدْخِلْنَا فِي
عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Alḥamdu lillāhi katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, Allāhumma lā uḥṣī tsanā’an ‘alayka anta kamā ats-nayta ‘alā nafsik. Allāhumma ilayka afaḍtu wa min ‘adzābika asyfaqt, wa ilayka raghibtu wa minka rahibtu. Faqbal nusukī wa a‘ẓim ajrī warḥam taḍarru‘ī waqbal taubatī wa aqil ‘athratī wastajib da‘watī wa a‘ṭinī su’lī. Allāhumma rabbanā taqabbal minnā wa lā taj‘alnā minal-mujrimīn, wa adkhilnā fī ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn yā arḥamar-rāḥimīn
Artinya: "Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak lagi baik dan membawa berkat di dalam-nya. Ya Allah, sekali-kali kami tidak mampu menghitung pujian untuk-Mu, sesuai pujian-Mu atas diri-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, dari siksa-Mu aku mohon belas kasihan, dan terhadap rahmat-Mu aku berharap dan atas azab-Mu aku takut. Terimalah ibadahku, perbesarlah pahalaku, sayangilah kerendahan hatiku, terimalah taubatku, perkecilah kekeliruanku, perkenankanlah permohonanku dan berikanlah permintaanku. Ya Allah kabul-kanlah doa kami, dan jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang berdosa, tetapi masukkanlah kami dalam hambaMu yang saleh wahai Tuhan Yang Paling Pengasih."
Hikmah Melontar Jumrah
Melontar jumrah bukan sekadar melempar batu kerikil dalam rangkaian ibadah haji, tetapi memiliki makna dan hikmah yang sangat dalam bagi kehidupan seorang Muslim. Ibadah ini menjadi simbol perlawanan terhadap godaan setan dan segala bentuk keburukan yang dapat menjauhkan manusia dari jalan Allah SWT.
Peristiwa ini mengingatkan kisah Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS yang tetap teguh menjalankan perintah Allah meskipun digoda oleh iblis agar membatalkan pengorbanan mereka.
Hikmah pertama dari melontar jumrah adalah mengajarkan umat Islam untuk selalu melawan godaan setan. Dalam kehidupan sehari-hari, setan tidak pernah berhenti menggoda manusia agar meninggalkan kebaikan dan melakukan maksiat. Karena itu, lontar jumrah menjadi lambang keteguhan iman dan keberanian seorang Muslim dalam menolak segala ajakan keburukan.
Hikmah berikutnya adalah pentingnya ketahanan dan kekuatan keluarga. Kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya menunjukkan bahwa keluarga yang saling mendukung dalam ketaatan kepada Allah akan mampu menghadapi ujian seberat apa pun.
Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail tetap kompak dan saling menguatkan saat menghadapi ujian besar dari Allah SWT. Dari sini umat Islam belajar bahwa keluarga yang dibangun dengan iman, keikhlasan, dan saling mendukung akan lebih kuat menghadapi godaan dunia.
Melontar jumrah juga mengajarkan tentang kesungguhan dalam melawan sifat buruk dalam diri. Batu kerikil dilempar berkali-kali hingga mengenai sasaran sebagai simbol bahwa melawan hawa nafsu, sifat iri, sombong, malas, dan berbagai perilaku buruk harus dilakukan dengan tekun dan terus-menerus. Seorang Muslim tidak cukup sekali melawan keburukan, tetapi harus berusaha memperbaiki diri setiap waktu.
Selain itu, hikmah penting dari lontar jumrah adalah menanamkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS berhasil melewati ujian berat karena keikhlasannya menjalankan perintah Allah. Begitu pula seorang Muslim, hanya dengan hati yang ikhlas seseorang dapat bertahan menghadapi godaan setan dan tetap istiqamah dalam kebaikan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.