Ikhlas Meski Salat dengan Tangan Terborgol
Selain harus mengalami berbagai bentuk intimidasi, relawan MER-C ini sempat harus menjalankan ibadah salat dengan tangan terborgol.
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG - Ratusan orang berkumpul di lapangan sepakbola Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Kamis (24/6/2010) siang. Gurat penasaran tergambar di wajah mereka. Para aktivis Jamaah Muslimin dari berbagai wilayah di Lampung itu sedang menunggu kedatangan Nur Ikhwan Abadi, teman mereka.
Tak lama, pekik takbir membahana. Kalimat Allahu Akbar itu pertanda kedatangan sang mujahid, keluar dari mobil yang membawanya dari Bandara Raden Inten, Lampung Selatan, Nur Ikhwan langsung disalami rekan-rekannya. Bak pahlawan, ia diarak menuju Masjid Taqwa Muhajirun.
"Ternyata untuk memperoleh sebuah kemuliaan itu tidaklah mudah. Hanya orang-orang yang dipilih Allah saja yang bisa meraihnya," ungkap pria lulusan Fakultas Teknik Universitas Lampung ini.
Ikhwan mengaku menyesal, saat berada di atas Mavi Marmara, para tentara Israel tidak menghujami dirinya dengan tembakan. Padahal, saat itu kepala dan punggungnya sudah dipenuhi laser dari senjata api para tentara zionis. "Bagi saya, mati di jalan Allah lebih baik dari segalanya," ujarnya.
Lalu ia mulai bercerita.Tragedi penyerangan kapal Mavi Marmara yang mengangkut relawan dan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina, di Jalur Gaza, 31 Mei lalu, menyisakan cerita pedih bagi Nur Ikhwan Abadi. Selain harus mengalami berbagai bentuk intimidasi, relawan MER-C ini sempat harus menjalankan ibadah salat dengan tangan terborgol.
Saat penyerangan terjadi, tutur Ikhwan, dirinya sedang mendapat tugas berjaga di dek empat, tepatnya di sisi kiri kapal. Sementara sebagian besar relawan menunaikan ibadah salat subuh. Akibat serangan itu, suasana kapal berubah kacau. Suara tembakan dan raung mesin helikopter mendominasi keadaan.
"Helikopter sangat dekat dengan kapal. Bayangkan, pintu musala dekat saya berdiri sampai hancur oleh angin dari baling-baling helikopter," tuturnya. Ikhwan dan beberapa rekannya sempat menyemprotkan air dari selang untuk menghalau serdadu Israel mendekati kapal. Namun apa lacur, usaha tersebut sia- sia.
Tentara Israel merangsek masuk, kemudian mendekati Ikhwan dan beberapa temannya yang berada di dek empat. Mereka mengepung dari dua sisi dengan menodongkan senjata. Para tentara ini memerintahkan para relawan mengangkat tangan dan duduk menghadap tembok. Tangan para relawan lintas bangsa itu kemudian diborgol. Mereka lalu dibawa ke buritan kapal di bawah pengawalan para tentara.
Memasuki waktu zuhur, suara adzan terdengar dikumandangkan seorang relawan asal Turki. Sang muadzin mendendangkan panggilan salat itu dalam keadaan tangan terborgol dan di bawah todongan senjata api. "Rasanya itu suara adzan terindah yang pernah saya dengar," ungkap Ikhwan.
Oleh sejumlah tentara, Ikhwan dan tujuh orang lainnya dibawa ke dek tiga. Di tempat ini, terlihat ceceran darah. "Baunya sangat menusuk hidung," tuturnya. Ikhwan cs lalu didudukkan di bangku yang sebenarnya hanya cukup untuk lima orang.
Dalam keadaan duduk dan tangan terborgol itu lah, mereka menunaikan salat zuhur. "Bahkan hanya untuk salat saja, tentara Israel tidak mau membukakan borgol," keluhnya. Ada beberapa relawan yang meminta dibukakan borgolnya, namun ditolak. Sikap berbeda ditunjukkan Ikhwan. Dia tak mau meminta kepada tentara untuk membukakan borgolnya. "Biarlah tangan ini terikat. Biar saya bisa merasakan penderitaan saudara-saudara saya di Palestina," ungkapnya.