Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Angola ekstradisi gerombolan kriminal Cina

Angola mengekstradisi 37 orang berkebangsaan Cina dengan tuduhan pemerasan, penculikan, perampokan bersenjata dan menjalankan lingkaran prostitusi.

Tribun X Baca tanpa iklan

Puluhan anggota geng Cina di Angola akan disidang di Beijing.

Angola mengekstradisi 37 orang berkebangsaan Cina dengan tuduhan pemerasan, penculikan, perampokan bersenjata dan menjalankan lingkaran prostitusi.

Mereka diduga menargetkan sesama Cina, menculik pengusaha untuk meminta uang tebusan dan kadang mengubur korban penculikan hidup-hidup.

Mereka juga membujuk perempuan Cina ke Angola, dengan menjanjikan pekerjaan bergaji besar, tetapi kemudian memaksa mereka menjadi pekerja tuna susila, demikian penjelasan polisi Cina.

Sekitar puluhan ribu orang Cina hidup di Angola, dan banyak perusahaan Cina yang memiliki minat besar di negara Afrika tersebut.

Menteri Keamanan Publik Cina mengatakan sebuah tim polisi khusus dikirim ke Angola Juli silam untuk menyelidiki geng kriminal lingkaran Cina tersebut.

Kementerian mengatakan petugas mereka berhasil membantu Angola untuk membongkar 12 geng dan membebaskan 14 korban, kebanyakan adalah perempuan yang dipaksa menjadi pelacur.

37 tersangka gerombolan kriminal ini tiba di bandara Beijing dengan tangan terborgol dan kepala tertutup. Mereka akan disidangkan di Cina.

Rekan bisnis terbesar

Rekomendasi Untuk Anda

Angola - negara kaya mineral - merupakan rekan terbesar Cina di Afrika, dengan jumlah transaksi mencapai US$24,8 miliar di tahun 2010.

Peluang komersial di Angola telah menarik pebisnis dan perusahaan negara Cina untuk menanamkan modal di negara tersebut.

Dan kriminalitas yang dilakukan gerombolan Cina ini dianggap telah mengganggu investasi Cina di Angola.

Polisi Cina dalam pernyataan di sebuah situs kementerian merilis artikel yang menyebut 14 kasus penculikan sepanjang tahun 2011 dan lima korban diantaranya dibunuh.

Sumber: BBC Indonesia
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas