Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Begini Caranya Memberi Warna Asap Saat Pemilihan Paus

Sejak Selasa (12/3/2013) kemarin, 115 kardinal yang sudah berkumpul di Vatikan, mulai mengisolasi diri mereka dari dunia luar

Tribun X Baca tanpa iklan

Laporan Wartawan Surya, Satwika Rumeksa

TRIBUNNEWS.COM – Sejak Selasa (12/3/2013) kemarin, 115 kardinal yang sudah berkumpul di Vatikan, mulai mengisolasi diri mereka di dalam Kapel Sixtina, guna memilih Paus yang akan menjadi pemimpin baru bagi umat Katolik.

Satu-satunya kontak para kardinal di dalam kapel itu dengan dunia luar adalah dalam bentuk sinyal asap. Karenanya, semua pandangan mata di di berbagai belahan dunia kini tertuju ke cerobong asap yang ada di Kapel Sixtina itu.

Asap mengindikasikan hal sederhana. Asap hitam berarti belum ada Paus baru yang terpilih. Sementara jika "fumata bianca" atau asap putih mengalir keluar dari cerobong asap, maka pertanda ada Bapa Paus yang baru sudah terpilih. Warnanya harus tepat, kalau tidak jutaan penonton akan tertipu.

Tapi, bagaimana mendapatkan warna pada asap? "Asap kebanyakan adalah material tidak terbakar sempurna, sehingga menghasilkan partikel-partikel kecil yang mengapung di udara. Warna asap itu tergantung terbuat dari apa partikel-partikel itu," kata Robert Krampf, seorang pendidik sains.

"Asap hitam biasanya terdiri dari potongan-potongan kecil karbon asap putih biasanya lebih kompleks. Terdiri dari bahan bakar, uap, uap air mineral atau abu," ucapnya.

Awalnya dulu Gereja Katolik Roma membakar jerami basah dengan kertas surat suara untuk memberikan asap warna gelap, yang bekerja baik untuk sementara waktu.

Rekomendasi Untuk Anda

"Ide di balik jerami basah adalah untuk menjaga bahan bakar dari pembakaran sempurna. Pembakaran tidak lengkap menghasilkan partikel karbon yang diperlukan untuk asap berwarna gelap," kata Krampf.

Sayangnya, jerami basah memberikan asap abu-abu, bukan asap hitam. Hal ini kadang-kadang menimbulkan sedikit kebingungan, dan orang-orang berpikir bahwa Paus baru telah terpilih jika asap hitam itu tidak cukup gelap.

Untuk menghilangkan kebingungan, para Kardinal itu sekarang telah pindah menggunakan senyawa kimia asap menggelapkan, termasuk dering lonceng Basilika Santo Petrus untuk sinyal Paus baru.

"Semua mata akan segera tertuju di cerobong asap itu lagi, dan bahkan di era Twitter, kita semua akan melakukan apa yang orang telah lakukan selama ribuan tahun, mencoba untuk membaca sinyal melalui asap,” kata Krampf.

Sumber: Surya
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas