Hiroyuki Suzuki, Mantan Yakuza Jadi Pendeta dan Bangun Gereja
Kuasa Tuhan rupanya memang segalanya. Seorang pria ketika berusia 17 tahun menjadi yakuza selama 17 tahun
Editor:
Widiyabuana Slay
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang
TRIBUNNEWS.COM - Kuasa Tuhan rupanya memang segalanya. Seorang pria ketika berusia 17 tahun menjadi yakuza selama 17 tahun, akhirnya menjadi pendeta dan membimbing sekitar 15 mantan yakuza menjadi Kristen bahkan beberapa orang menjadi pendeta seperti berita pernah dimuat Tribunnews.com, beberapa waktu lalu.
Itulah Hiroyuki Suzuki yang dua kali mengakui hampir mati ditembak tetapi tidak kena dan sempat pula ditodongi pistol ke kepalanya oleh sesama anggota yakuza lain. Tapi kuasa Tuhan membuatnya tanpa rasa takut apa pun, bahkan pasrah kepada-Nya membuatnya kini hidup tenang bersama istrinya, Mariko, keturunan Korea dan seorang putrinya Anna.
Demikian ungkap Suzuki khusus kepada Tribunnews.com, Rabu(03/04/2013), di gereja Siloam Kristus di Gojyoya Kashiwa, sekitar 30 menit berkereta dari Tokyo.
"Saya dulu sama sekali tak percaya Tuhan, umumnya orang Jepang. Lalu kenalan dengan Mariko di klub malam, menikah dan akhirnya masuk Kristen bahkan menjadi pendeta saat ini di tahun ke-18," ungkapnya.
Dulu Suzuki sangat kental dengan permainan judi. Bahkan semalam bisa dapat untung 100 juta yen atau sekitar Rp 10,4 miliar (kurs Rp 104 per yen). Lalu uang tunai yang pernah dipegangnya pernah sampai 20 juta yen (Rp 2,08 miliar). Tapi semua silih berganti timbul tenggelam. Bahkan sempat pinjam 50 juta yen tak bisa bayar sehingga ruas kelingking kanannya harus dipotong (yubitsume) sebagai tanda penyesalan dan kesalahan pinjam uang tak bisa kembalikan 50 juta yen (Rp 5,21 miliar).
"Yubitsume memang dilakukan tapi bukan berarti hutang hilang. Maka saya terus mencoba mengembalikan saat usia 31 tahun, 32 tahun, dan 33 tahun banyak dapat untung dari judi akhirnya semua hutang bisa dilunasi walau masih tersisa sedikit belum terbayar," ujarnya, mengenang.
Itulah sebabnya anggota yakuza lain datang, nongkrong di gerejanya, bahkan sampai mengancamnya, "Saya pasrah saja sama Tuhan, mau apa lagi saya tak punya uang untuk kembalikan pinjaman. Berdoa terus agar mereka diyakinkan oleh-Nya bahwa hidup saya sudah berubah dan memang bukan pekerjaan mencari untung seperti perusahaan. Bersyukurlah mereka percaya tampaknya bahwa saya memang tak punya uang jalan hidup saat ini sebagai pendeta sehingga mereka kini tak pernah datang lagi."
Suzuki awalnya adalah anggota Yakuza di Osaka dari kelompok Sakaumegumi di Nishinari Osaka, lalu setelah menikah, meninggalkan istri dan anaknya yang masih beberapa bulan, kabur ke Shinjuku Tokyo, balik lagi ke Osaka dan balik lagi ke Tokyo, belajar agama Kristen selama 3 tahun untuk jadi pendeta sampai dengan kini.
Awalnya sebagai pendeta di Gereja Funabashi, 5 tahun, lalu pindah ke Akebono Kashiwa selama 7 tahun dan kini di Gojyoya Kashiwa tahun ke-6. Gereja milik sendiri dibangun oleh uangnya dan uang umat bersama, demikian diakuinya.
Info lengkap yakuza baca www.yakuza.in
Baca tanpa iklan