Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Jam Dinding Berhenti di Angka 03.37 Saat Pasutri Tewas Terkena Longsor

Rumahnya ambruk, hancur berantakan terpukul longsoran dan jam dindingnya pun jatuh, baterai lepas, langsung mati

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Jam Dinding Berhenti di Angka 03.37 Saat Pasutri Tewas Terkena Longsor
Foto Mainichi
Jam dinding yang ikut mati di angka 03.37 pagi waktu Jepang seiring dengan bencana alam tanah longsor dengan korban 72 orang meninggal dunia 20 Agustus lalu. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com di Tokyo, Richard Susilo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sepasang suami istri benar-benar hidup bersama sampai meninggal saat bencana tanah longsor menimpanya 20 Agustus lalu. Rumahnya ambruk, hancur berantakan terpukul longsoran dan jam dindingnya pun jatuh, baterai lepas dan langsung mati.

Itulah yang terjadi saat bencana menghantam sepasang suami istri, Koji Tachikawa (81) dan istrinya Sachiko (82) tanggal 20 Agustus pukul 03.37 pagi waktu Jepang. Jam dinding pun berhenti di angka 03.37.

"Saya sangat sedih tak bisa ikut membantu menyelamatkan kakak dan istrinya," papar Shinsan (77) menceritakan kisahnya sambil memeluk jam dinding yang mati itu di daerah Asaminamiku Hiroshima.

Saat bencana terjadi 20 Agustus, Shinsan sedang berada di Gunma untuk mendaki gunung bersama kelompoknya.

"Saya sudah membeli oleh-oleh kesenangan mereka. Begitu ada kabar bencana longsor saya telepon mereka dan tak diangkat langsung saya pulang ke Hiroshima tapi sudah tak tertolong lagi," katanya.

Shinsan sejak 2001 membentuk grup mendaki gunung dan telah 100 kali mendaki gunung sampai dengan akhir tahun 2012.

Rekomendasi Untuk Anda

"Waktu saya berusaha mencari, akhirnya ditemukan jasad mereka berduaan bersama-sama, saya sangat sedih sekali tak bisa lebih cepat membantu mereka," ujarnya.

Kini Shinsan merasa kalau malam seolah terngiang di telinganya, kakaknya memanggilnya "Shin San Shin San! Saya sangat sedih sekali."

Daerah Asaminamiku dulu dengan nama lain dan menggunakan kanji ular karena masyarakat lama di sana menyadari daerah itu sangat berbahaya bukan untuk dihuni. Tetapi pengembang mengolahnya menjadi hunian dan kejadian bahaya itu akhirnya muncul dan memakan korban 72 orang meninggal dunia.

Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas