Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pemagang Asing Ke Jepang Itu Pembohongan

Kehadiran pemagang asing baik kenshusei maupun jishusei ke Jepang merupakan pembohongan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Gusti Sawabi
zoom-in Pemagang Asing Ke Jepang Itu Pembohongan
Richard Susilo
Taro Kono, kelahiran Hiratsuka, perfektur Kanagawa, 52 tahun, politisi partai liberal (LDP) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Kehadiran pemagang asing baik kenshusei maupun jishusei ke Jepang merupakan pembohongan. Mereka hanya kerja kasar saja, seperti cabut rumput, angkat benda berat, semua pekerjaan itu bisa dilakukan siapa pun. Oleh karena itu sistem ini perlu dihentikan. Kalau mau dijalankan, ya jalankan yang benar.

"Bohong itu! Pemagangan ke Jepang oleh tenaga asing, termasuk dari Indonesia, tidak benar kalau memiliki nilai tambah, apalagi transfer teknologi. Kenyataan mereka hanya pekerja keras biasa saja, angkat barang, cabutin rumput dan semua pekerjaan siapa saja bisa melakukannya," papar Taro Kono, politisi senior partai liberat (LDP) khusus kepada Tribunnews.com pagi ini (3/6/2015).

Kono yang sempat menyumbangkan satu hatinya kepada ayahnya, Yohei Kono yang saat ini sehat menurutnya, melihat sistem kenshusei atau jishusei (keduanya adalah pemagangan) perlu dihapus, dibenahi dengan sistem yang lebih baik kalau memang Jepang mau serius menerima pekerja asing.

"Yang penting bagi mereka bukan darah keturunan mereka, atau tenaga mereka, tetapi penguasaan bahasa Jepang mereka agar bisa berkomunikasi dengan baik bersama masyarakat Jepang. Pelajari budaya Jepang pula dengan baik, sehingga bisa berasimilasi dengan baik di Jepang. Tentu saja tenaga ahli juga dibutuhkan Jepang seperti perawat. Kalau hal itu tak masalah karena Jepang sangat membutuhkan lebih banyak lagi perawat di tengah jauh semakin banyak kaum lanjut usia (lansia) di Jepang saat ini," jelasnya.

Demikian pula mengenai perubahan jangka waktu pemagangan dari 3 tahun ke lima tahun atau yang sudah pernah kembali ke Indonesia bisa dipanggil kembali ke Jepang, "Itu bukan hal yang benar. Kalau mau memang benar, Jepang menarik tenaga kerja asing ke Jepang, buatlah supaya mereka bisa bekerja dengan baik di Jepang, seperti tadi saya katakan, harus pintar bahasa Jepang. Kalau soal 3 tahun menjadi 5 tahun itu kan soal menguntungkan perusahaan saja. Bukan begitu caranya," katanya lagi.

Kono menekankan kalau memang mau mempekerjakan tenag aasing ke Jepang, selain pintar bahasa Jepang dan bisa bekerja dengan baik, mengenal budaya Jepang dengan baik, harus disiapkan sistem agar bisa diubah visanya menjadi visa kerja tetap, misalnya, "Jadi bukan soal 3 tahun menjadi 5 tahun saja. Lakukan pembuatan sistem visa kerja tetap kalau memang pekerja asing itu setelah berada di Jepang ternyata memang baik dan pintar bahasa Jepang, cocok bekerja di Jepang, memiliki keahlian."

Rekomendasi Untuk Anda

Mengenai kemungkinan kabur jadi ilegal, menjadi penjahat atau penyelewengan lain setelah tiba dan bekerja di Jepang, "Itu gampang saja, tinggal dicari ditangkap ya dipulangi ke negerinya lah, kalau memang dia jadi penjahat atau melakukan kejahatan. Kita tak bisa memungkiri adanya kemungkinan resiko hal tersebut. Jangankan orang asing, orang Jepang sendiri juga melakukan kejahatan kok."

Dengan demikian, tambahnya, bukan dengan cara pembohongan jadi pemagang katanya bisa transfer teknologi dan sebagainya, "Itu bohong. Lihat saja kenyataan di lapangan," katanya.

Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas