Beratnya Persyaratan Menjadi Masinis Kereta Api Peluru Shinkansen Jepang
Yukie adalah satu dari 4 kondektur wanita atau 1 persen dari seluruh masinis Shinkansen Jepang. Dia membawa Shinkansen series E-6 dari Sendai ke Tokyo
Editor:
Dewi Agustina
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menjadi masinis kereta api peluru (Shinkansen) East JR Company tidaklah mudah. Setidaknya itulah yang dialami salah seorang masinis Shinkansen wanita, Yukie Nakano.
Yukie adalah satu dari 4 kondektur wanita atau 1 persen dari seluruh masinis Shinkansen Jepang. Dia membawa Shinkansen series E-6 dari Sendai ke Tokyo.
"Berat menjadi masinis shinkansen, harus 10 tahun dulu jadi pengendara kereta api biasa. Lalu satu tahun pelatihan sebagai masinis shinkansen, diuji, lulus, barulah bisa menjadi masinis shinkansen," kata Yukie Nakano kepada Tribunnews.com, Jumat (5/6/2015)
Shinkansen dioperasikan pertama kali di Jepang tahun 1964 dan sampai kini lebih dari 50 tahun tak pernah terjadi kecelakaan. Dulu masinis shinkansen ada dua orang. Tetapi sekitar tahun 1980-an akhirnya menjadi hanya satu orang saja seiring dengan kecanggihan teknologi shinkansen yang sangat rinci dan sangat sensitif sehingga keadaan emergency dapat diantisipasi segera. Namun tetap tidak ada oto-pilot seperti halnya pesawat terbang, meskipun dikendarai oleh hanya satu orang.
"Kesehatan nomor satu sebagai masinis. Kalau ada keanehan sedikit pada tubuh harus segera lapor, karena masinis hanya sendiri dan selama satu dua jam harus bekerja fokus mengendarai kereta api peluru dengan baik, tak boleh lepas perhatian dari kursinya," kata Yukie.
Lalu apabila ingin kencing atau hal lain, hal itu dilakukan pada perhentian shinkansen di stasiun berikut. Dalam kokpit masinis shinkansen yang hanya seorang diri itu memang sempit seperti dialami Tribunnews.com, Jumat (5/6/2015). Tinggi kokpit pas-pasan sekitar 180 cm dan lebar kokpit hanya sekitar 80 cm jadi memang hanya bisa satu orang saja.
Masinis menghadapi tiga layar utama dengan semua data, baik kecepatan, normalitas semua fungsi dan sebagainya. Masinis juga selalu mengecek semua data yang ada, baik ketepatan waktu tiba, cepat lambat perjalanan dan sebagainya.
Misalnya kemarin, jalur shinkansen melewati sepotong jalur yang sehari sebelumnya baru saja selesai diperbaiki, maka pada lintasan tersebut shinkansen agak diperlambat jalannya, sebagai jangka waktu penyesuaian perbaikan selesai dan penggunaan umum. Ini adalah bagian antisipasi keamanan yang ada bagi perjalanan shinkansen. Setelah jangka waktu sekian lama, shinkansen akan berjalan dengan kecepatan normal pada lintasan tersebut.
Angka menunjukkan 320 kilometer per jam, cepat sekali, tetapi di dalam kokpit seolah tak terasa kecepatan tersebut.
Lalu bagaimana kalau tiba-tiba ada penting dari luar? Ternyata ada staf shinkansen di luar kokpit yang memegang kunci, sehingga bisa masuk akses ke dalam kokpit. Pintu masuk kokpit selalu tertutup dan terkunci sebagai antisipasi pembajakan dan sebagainya. Hanya masinis saja yang bisa masuk ke luar kokpit tersebut, disamping staf shinkansen kalau memang teramat penting harus masuk, menggunakan kunci sendiri.
Komunikasi menggunakan telepon dari kokpit ke staf. Masinis pun dapat menggunakan telepon dengan pusat kontrol Shinkansen di kantor pusat. Menarik adalah, tidak adanya kamera yang bisa menggambarkan suasana kokpit dengan kontrol kantor pusat. Menurutnya, tak perlu dan tak ada gunanya.
"Terpenting adalah data yang ada dan dialami shinkansen, itu demi keamanan perjalanan shinkansen, semua ada dan terkait jaringan komunikasi dengan pusat kontrol. Jadi yang dilihat masinis bisa pula saat yang sama dilihat pihak kontrol pusat di kantornya," kata Yukie.
Bagaimana kalau ada burung melintas atau orang melintas untuk bunuh diri?
"Kenyataan ada yang bunuh diri ditabrak shinkansen. Dan kalau burung atau binatang di tengah perjalanan cepat, ya mau tak mau bye-bye, pasti mati burung itu bila ditabrak shinkansen dalam kecepatan sangat tinggi itu. Semua demi keamanan semua penumpang, tak mungkin mendadak berhenti," ungkap sumber Tribunnews.com di JR.
Berat shinkansen E-6 ini antara 41 ton sampai dengan 45 ton. Bagian kerangka luar shinkansen juga sebagai salah satu bagian peredam suara, sehingga suara kereta api ini sangat lembut hampir tak terdengar suaranya. Listrik yang digunakan sebesar 20.000 volt-25.000 volt.
Pengereman menggunakan sistem sistem komando elektrik air brake dengan regenerative brake (menggunakan kontrol load compesating control). Pendingin udara dalam ruangan menghabiskan tenaga 54,66 kilo watt.