Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kepolisian Australia: Dua Pilot Indonesia Gabung ISIS Ancam Negara

Dua pilot Indonesia diyakini telah bergabung dengan kelompok teroris ISIS.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Ruth Vania C
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Kepolisian Australia: Dua Pilot Indonesia Gabung ISIS Ancam Negara
dailymail
Foto yang diambil dari sebuah video yang diunggah ke internet menampilkan seorang anggota ISIS tengah memegang sebuah peluru bazoka atau RPG. Sementara, si tawanan (baju merah) sudah diikat di sebuah tiang. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ruth Vania Christine

TRIBUNNEWS.COM, AUSTRALIA - Dua pilot Indonesia diyakini telah bergabung dengan kelompok teroris ISIS, demikian bocoran dari dokumen milik agen intelijen kepolisian federal Australia (AFP).

Kedua pilot tersebut diidentifikasi bernama Ridwan Agustin dan Tommy Abu Alfatih, yang dikatakan pernah bekerja untuk perusahaan penerbangan AirAsia dan Premiair.

"Keduanya kemungkinan mendapat pengaruh oleh kelompok pro-ISIS, terlebih oleh propaganda ISIS yang dilakukan melalui media daring yang dioperasikan oleh kelompok radikal yang populer di Indonesia dan militan teroris asing dari Suriah atau Irak," demikian isi laporan tersebut.

Disebutkan pula bahwa Ridwan dan Tommy kerap mengunggah postingan melalui akun Facebook mereka, yang memperlihatkan dukungan mereka pada kelompok ISIS.

Meski pihak yang mempekerjakan Ridwan dan Tommy belum jelas, menurut dokumen itu, keduanya masih menerbangkan pesawat dan melakukan kontak di sektor penerbangan.

Selain itu, laporan tersebut juga mengatakan bahwa keduanya sempat melakukan penerbangan ke Australia pada 2014 lalu, dan ke beberapa tempat lainnya di dunia.

Yang mengkhawatirkan adalah jika pihak berwenang yang memiliki akses di lingkungan penerbangan saja sudah di bawah pengaruh ISIS, keberadaan mereka akan sangat mengancam keamanan negara.

"Akses dan informasi terkait keamanan (penerbangan) dapat membuka jalan bagi mereka untuk melakukan serangan, seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya," tulis laporan itu.

Menurut laman daring AS, The Intercept, dokumen laporan tersebut sudah disebarkan ke beberapa agen penegak hukum di Turki, Yordania, Inggris, dan Amerika Serikat.

Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas